Saturday, 20 August 2011

Model Porno




Model Porno




Sally

Saya adalah seorang model sebuah majalah porno di Singapore. Yah, seperti yang kedengarannya, bekerja di majalah porno sebagai model tidak membutuhkan baju yang bagus dan make-up yang tebal. Yang penting adalah menjaga tubuh agar tetap seksi juga perawatan wajah. Aku tidak perlu ke Singapore untuk difoto, karena di Jakarta juga terdapat studio foto untuk mengambil gambar model-model dari Indonesia yang kemudian dikirimkan dan diterbitkan di Singapore.

Mungkin anda heran, bagaimana saya dapat terjun dalam dunia seperti itu. Baiklah, akan saya ceritakan masa lalu saya. Pada saat usia saya menginjak 16 tahun, kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan. Saya sangat terpukul dengan kejadian itu. Pada saat itu saya sangat bingung dengan keadaan ini, karena saya tidak tahu harus kemana. Saya tidak punya keluarga lain selain keluarga saya sendiri, sementara saya adalah anak tunggal.

Namun tidak lama kemudian, teman bisnis ayah saya, anggap namanya Pak Mori, berusia sekitar 50 tahun, datang menawarkan saya untuk tinggal di apartemennya dan beliau berjanji akan membiayai sekolah saya sampai saya lulus SMA. Dalam keadaan bingung, akhirnya saya menerima tawaran beliau. Saya lalu tinggal di apartemen beliau, hanya berdua dengannya.

Beberapa bulan kemudian saya tinggal dengannya, tiba-tiba pada suatu malam, Pak Mori masuk ke dalam kamar saya. Saat itu saya baru saja masuk kamar dan belum sempat menguncinya. Saya kaget karena beliau tidak mengetuk kamar saya dulu, dan pada saat itu saya hanya mengenakan daster kuning polos yang tipis. Di dalamnya saya tidak mengenakan BH dan hanya mengenakan CD saja. Sejenak Pak Mori terkesiap melihat saya, namun beliau kemudian mendekati saya. Spontan saya memeluk bantal untuk menutupi dada saya.

Pak Mori lalu berkata kepada saya, “Sally, tolong Bapak, Nak, istri Bapak sudah lama meninggal, Bapak sudah lama tidak dilayani. Bapak tidak minta macam-macam. Bapak hanya minta agar Sally bersedia melayani Bapak.”
Wajahnya terlihat sayu dengan keringat di dahinya. Saya tidak tega melihatnya. Saya pikir beliau telah baik mau membiayai sekolah saya. Lagipula keperawanan saya telah hilang sejak saya masih kecil ketika jatuh dari sepeda.

Pak Mori terus memandang dan menunggu jawaban saya, sedangkan saya tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Pak Mori meraih bantal yang saya peluk untuk menutupi dada saya dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian beliau diam dan memandang saya.
Melihat saya diam, beliau lalu berkata, “Kalau Nak Sally diam, Bapak rasa jawaban Sally ‘iya’.”
Beliau masih memandangi saya. Tiba-tiba beliau meraih dan memeluk tubuh saya dan mengusap-usap punggung saya.
“Terima kasih, Nak.” beliau berkata sambil menatap hangat pada saya.

Setelah itu beliau mulai menciumi kening saya dan kedua pipi. Lalu menjulurkan lidah sambil mencium telinga dan bibir saya. Kubalas ciumannya, lidahnya bermain liar di dalam mulut saya, begitupun saya. Tangannya yang dari tadi memeluk punggung saya mulai turun mengelus-elus pantat dan meremasnya. Kemudian kepalanya turun ke leher saya, menciumi dada saya yang masih tertutup daster kuning. Saya mulai terangsang. Apalagi ketika mulutnya berhenti di puting saya yang hanya ditutupi daster kuning polos yang tipis itu. Beliau mengulum dan menggigit puting saya itu.

“Uuh.. aahh.. Pak.. Uh..!” saya sudah tidak kuat lagi.
Geli rasanya dada ini dipermainkan seperti itu oleh Pak Mori. Spontan saya membuka 4 kancing daster yang terletak di depan itu, dan terlihatlah kedua bukit kembar saya yang montok itu, berukuran 36B dengan puting berwarna pink gelap dan mencuat menantang ke wajah Pak Mori. Beliau langsung melumatnya, menggigit kecil, kemudian memasukkan semua ke dalam mulutnya. Ternyata mulut Pak Mori lebar juga, buktinya bukit dada saya yang 36B masuk semua ke dalam mulutnya.
“Aduuh.. Pak, geli ah.. enaa..gh..!” saya meraung-raung keenakan.

Pak Mori menurunkan daster terus ke bawah dan sambil menciumi perut saya yang rata karena sering sit-up itu. Tangan kirinya bergerak menurunkan daster, dan tangan kanannya mengelus-elus pantat dan paha saya yang mulus. Setelah daster turun semua, tangan kirinya mengangkat kaki kanan saya dan melipatnya ke atas tempat tidur. Lalu beliau berjongkok dan tangan kirinya membuka sebagian kain CD yang menutupi bukit kemaluan saya. Seketika itu langsung terlihatlah bukit kemaluan saya yang bulu-bulunya sedikit itu, sehingga beliau tidak perlu susah-susah menjilati kelentit saya.

“Oohh.. Pak.. enaakk..!” kata saya sambil memegangi kepalanya.
Saya tidak perduli lagi siapa dia. Pak Mori terus menjilati kelentit saya dan memasuki satu jari tangan kanannya ke dalam vagina, dan menggerakkannya keluar masuk. Saya betul-betul keenakkan. Saya menggerakkan pantat turun naik mengikuti gerakan jarinya itu. Tiba-tiba sesuatu meledak dalam diri saya.
“Aaa..gh.. aku mau kelua.. ar..!” air kenikmatan saya membasahi jari dan mulutnya. Beliau menghisapnya habis.

Kemudian yang tidak disangka, beliau merobek sebagian kain celana dalam saya yang menutupi bukit kemaluan saya dan kemudian membuka CD-nya. Terlihatlah senjatanya yang besar ditumbuhi bulu-bulu yang sangat tebal. Saya sudah tidak tahan lagi melihatnya.
“Ooh.. masukkan, Pak, cepat Pak..!” kata saya sambil mengelus-elus bukit kemaluan saya yang telah basah itu.
Ternyata Pak Mori pun sudah tidak kuat. Beliau langsung menghujamkan penisnya masuk ke dalam vagina saya.
“Aaah.. sakiit..! Enaaggh..!” kata saya yang mulai merasa nyeri tapi sangat enak di bagian bawah itu.

Pak Mori menaik-turunkan penisnya dengan cepat. Ternyata melakukan sambil berdiri enak juga. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Tangan saya pun tidak mau kalah dan meremas-remas kedua pantatnya. Tidak lama saya mendapat orgasme yang kedua, dan tidak lama kemudian beliau pun juga. Akhirnya kami tertidur berpelukan di tempat tidur. Keesokkan harinya, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Kami masing-masing orgasme dua kali. Setelah itu saya pergi ke sekolah dan beliau pun pergi ke kantor.

Sejak itu hidup saya berubah. Kami seperti selayaknya suami istri di dalam apartemen kami. Ternyata untuk orang seusianya, beliau masih sangat kuat melakukannya berjam-jam. Bahkan saya dilarangnya mengenakan baju bila di dalam apartemennya itu. Tapi saya selalu menggodanya dengan hanya mengenakan sehelai kain di tubuh. Misalnya, hari ini saya hanya memakai BH saja, sedangkan bagian tubuh yang lain polos mengoda. Lalu kemudian saya duduk di depannya dengan membuka lebar-lebar selangkangan, sehingga kemaluan saya menantang dirinya. Beliau selalu tidak tahan dan mengajak bermain lagi.

Besok harinya saya hanya mengenakan CD saja yang berwarna hitam dan bahannya bolong-bolong, sehingga bulu kemaluan yang sedikit itu keluar dan klitoris yang berwarna pink itu juga terlihat bila saya mengangkang, sedangkan payudara saya bergelantungan dengan indahnya di dada. Bila seperti itu, beliau lalu memeluk dan menggendong saya ke tempat tidur sambil mulutnya mengulum payudara dan menarik-narik putingnya. Ini kami lakukan hampir tiap hari seperti selayaknya pengantin baru sampai saya lulus SMA. Namun Pak Mori ini seperti tidak pernah mati kekuatannya untuk melakukan hubungan seks dengan seorang gadis belia seperti saya, dan saya selalu dibuat puas olehnya.

Suatu hari ketika saya baru selesai mandi, seperti biasa saya keluar dari kamar tanpa menggunakan busana, dan sambil mengeringkan rambut yang masih basah, saya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa saya sadari, ternyata ada dua orang teman Pak Mori yang bertamu. Mereka berdua terlihat kaget melihat saya yang telanjang bulat itu. Begitu pun saya. Tapi rasa kaget saya tidak saya perlihatkan dan langsung saya pergi ke dapur cepat-cepat.

Malam harinya ketika hendak tidur, Pak Mori berkata pada saya, “Sally, mau gak jadi model..?” tangannya mengelus-elus puting saya.
“Model..? Model seperti di majalah-majalah itu..?” tanya saya.
“Yah, tapi ini berbeda. Begini, teman-teman Bapak yang tadi itu berasal dari Singapore. Yang satu namanya Pak Ramen, yang satu lagi Pak Davis. Pak Ramen sebenarnya orang Indonesia, tapi tinggal di Singapore. Beliau adalah editor majalahnya, sedangkan Pak Davis adalah direkturnya.”

“Jadi maksudnya majalah Singapore..?”
“Yah begitu. Mereka berdua setelah melihatmu menjadi tertarik dan menawarimu menjadi model. Tapi kamu tidak perlu ke Singapore. Kamu cukup tinggal di Indonesia, karena studio fotonya ada di Indonesia.”
“Tapi Sally malu, tadi Sally telanjang di depan mereka.”
“Em.., begini Sally tidak perlu malu, karena.. eh.. majalah mereka adalah majalah porno.. eh tapi itu terserah Sally, mereka hanya menawari karena tertarik dengan Sally. Kalau Sally tidak mau, itu juga tidak apa-apa.”
Saya mengerti. Mereka telah melihat tubuh saya dan mereka tertarik. Saya bingung sekali.

“Honornya lumayan gede lho, Sal. Bapak tidak akan minta kok. Kalau Sally nanti mau, honornya tetap buat Sally, karena kan Sally yang bekerja. Makanya Bapak terserah Sally saja. Kalau mau dicoba saja.” lanjutnya.
Saya mulai tertarik.
“Sally harus datang kemana, Pak..?” beliau tersenyum dan memberitahu alamatnya.

Keesokkan harinya saya datang ke studio foto itu. Tempatnya seperti rumah biasa, cukup besar dengan pagar tinggi yang menutupi rumah tersebut. Seperti bukan kantor atau studio foto. Lalu saya masuk dan bertanya pada resepsionist hendak bertemu dengan Pak Davis. Seseorang mengantar saya ke kantor Pak Davis. Pak Davis terseyum menyambut saya. Ternyata beliau seorang pemuda berusia 30 tahunan. Tidak begitu ganteng tapi di tubuhnya yang putih ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Terlihat dari tangan dan dadanya yang bidang. Namun senyumnya terlihat menarik.

“Selamat siang, Sally, silakan duduk..!”
Saya duduk di depan mejanya. Ia pun duduk.
“Singkat saja, jadi kamu tertarik..?”
“Iya, Pak.”
“Jangan memanggilku Pak. Panggil aku Abang saja. Aku sebenarnya berasal dari Indonesia juga. Semua orang memanggilku Bang Davis.” saya tersenyum.
“Oke, kita kembali ke pokok semula. Begini Sally, untuk menjadi model ada beberapa syarat. Yang pertama, kami harus mengedit tubuhmu dulu.”
“Mengedit tubuhku..?”
“Yah, kami harus tahu bagaimana tubuhmu, apa kekurangannya dan kelebihannya. Kekurangannya akan ditutupi, kelebihannya akan ditonjolkan. Jadi nanti bila difoto akan baik jadinya. Mengerti..?”
Saya mengangguk.

“Sekarang buka seluruh pakaianmu, aku akan memanggil editor kami, Bang Ramen.” Ia keluar dari ruangannya.
Saya merasa kikuk. Tapi akhirnya saya buka baju satu persatu sampai tinggal BH dan CD. Tiba-tiba mesuklah Bang Ramen dan Bang Davis.
“Lho, kok, CD dan BH-nya tidak dibuka..? Tidak perlu malu. Pekerjaanmu nanti tidak memerlukan baju. Kurasa, Pak Mori sudah menjelaskannya bukan..?”
Saya mengangguk seperti orang bodoh. Lalu membuka CD dan BH saya. Saya memang tidak perlu malu, toh mereka pun sudah melihat saya telanjang bulat di apartemen Pak Mori.

Setelah telanjang bulat, saya berdiri menantang. Mereka melihat saya tanpa berkedip. Saya tahu ‘adek-adek’ mereka sudah berdiri melihat saya. Tiba-tiba saya merasa percaya diri. Ini merupakan permainan yang menyenangkan. Lagipula saya senang menggoda Pak Mori. Mengapa saya tidak bisa menggoda mereka juga? Saya lalu melepas jepitan rambut dan terurailah rambut saya yang sangat lebat dan indah. Saya berdiri menggoda di depan mereka sambil memainkan sedikit rambut saya di dalam mulut. Bang Ramen mulai mendekat. Ia mengelus tangan saya, lalu pipi. Lalu ia memutari tubuh saya dan mengelus punggung dan pantat saya. Lalu tangannya mulai memegang payudara saya yang 36B itu beserta puting yang mencuat ke depan itu. Lalu ia berjongkok dan mengelus paha dan membuka selangkangan saya. Lalu ia berdiri lagi, tiba-tiba ia mencium leher saya.

Tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Saya mulai terangsang. Lalu tangan kirinya beralih ke selangkangan saya yang sudah mulai basah itu dan berhenti pada klitoris. Ia mengelus-elus klitoris saya. Tangan kanannya mengelus anus saya.
“Uuhh.. eehh.. ahh..!” tidak sengaja saya meraung-raung, tanpa saya sadari ternyata Bang Davis telah ikutan menghisap puting saya dan tangan kanannya memegang puting yang satu lagi.
Tangan kiri Bang Ramen dimasukkan ke dalam vagina saya dan bergerak keluar masuk. Kami melakukannya sambil berdiri seperti ketika pertama kali saya melakukannya dengan Pak Mori. Saya benar-benar terangsang.

Bang Ramen mencium bibir saya dan memainkan lidahnya di mulut saya. Erangan saya tertahan di dalam mulutnya. Lalu Bang Ramen berjongkok dan mencium klitoris dan memainkan lidahnya di sana, namun jarinya masih bermain di vagina. Posisi Bang Ramen digantikan oleh Bang Davis yang mencium dan melumat-lumat bibir saya. Tiba-tiba saya merasa ada yang keluar. Walaupun erangan saya tertahan oleh bibir Bang Davis, tapi mereka tahu bahwa saya orgasme pertama kali dari getaran tubuh saya.

Lalu Bang Ramen membuka celananya, juga Bang Davis. Penis Bang Ramen sangat besar dan hitam. Bang Davis pun juga besar tapi putih. Masih dalam posisi berdiri, Bang Ramen memasukkan penisnya ke dalam anus saya. Rasanya sakit sekali. Saya mengerang kesakitan, namun tiba-tiba Bang Davis memasukkan penisnya ke vagina. Rintih saya berubah menjadi keenakan. Mereka berdua memainkan penis mereka keluar masuk anus dan vagina saya. Rasanya enak sekali disetubuhi dua pria sekaligus. Permainan kami cukup lama.

Saya sudah orgasme tiga kali ketika mereka berdua orgasme untuk pertama kalinya. Akhirnya mereka mencabut penis mereka dan merebahkan tubuh mereka di bangku sofa. Sedangkan saya bersenderan pada tembok dan memejamkan mata. Saya merasa lemas sekali melayani dua pria sekaligus. Tiba-tiba Bang Davis memegang bahu saya.
“Kamu diterima, Sally..!”
Saya tadinya hampir marah karena untuk diterima saya harus melayani mereka berdua terlebih dahulu. Tapi ketika mengingat kenikmatan yang baru saja saya terima, saya dapat menahan amarah.

Lalu hanya dengan mengenakan BH saja, saya dibawa Bang Ramen ke sebuah ruangan yang berisi semacam bar di situ. Di dalamnya terlihat banyak wanita yang tidak menggunakan baju sama sekali. Ruangan itu ternyata jadi satu dengan studio fotonya, sehingga model-model yang merasa haus dapat langsung memesan minum di situ. Saya disuruh duduk di bangku bar yang tinggi dan disuruh mengisi lembaran formulir dan lembaran kerjasama. Lalu Bang Ramen meninggalkan saya sendiri di situ.

Ketika saya sedang mengisinya, seseorang mencolek saya dari belakang. Ketika saya menoleh, terlihat seorang pemuda memandang saya sambil tersenyum. Tanpa basa basi lagi, pemuda tadi mendekatkan wajahnya ke vagina saya dan menjilat klitoris saya. Saya kaget dan ingin menghindar. Tapi bangku bar yang tinggi yang membuat saya kesulitan menapakkan kaki saya ke lantai, sehingga membuat selangkangan saya yang tanpa CD itu terbuka lebar membuat saya kesusahan untuk turun. Pemuda itu tetap menjilati selangkangan saya. Vagina saya yang masih merasa geli akibat serangan Bang Ramen tadi akhirnya basah lagi dan saya mulai merasa keenakan.

Tidak lama saya orgasme lagi di tempat duduk bar itu, sehingga tempat duduk yang terbuat dari kulit itu menjadi basah oleh cairan kenikmatan saya itu.
“Salam kenal, Mbak. Saya Roy, model pria di sini. Mbak namanya siapa?” tanyanya kemudian.
“Sally” kata saya lemas.
“Nanti kita akan selalu ketemu, dan kita pasti akan melakukannya lagi.”
Saya tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan mulai mengisi formulir itu lagi.

Tidak lama Bang Ramen datang dan mengambil formulir yang telah saya isi itu. Ia menunjukkan honor saya dan pekerjaan saya. Untuk pertama kali pada hari pertama itu saya difoto bugil di depan banyak orang. Ternyata inilah pekerjaan baru saya. Menyenangkan sih, asal tidak hamil saja. Karena ketika difoto berpasangan, tidak jarang kami menyatukan alat kelamin kami, sehingga fotonya lebih bagus dan tidak terlihat kaku.

Kadang-kadang saya juga main dengan Bang Ramen atau Bang Davis atau kedua-duanya. Namun di rumah saya tetap menjadi ‘istri’ Pak Mori. Itulah pengalaman saya. Foto-foto saya banyak dipampang di majalah porno di Singapore, dan tentu saja tidak dijual bebas. Hanya golongan tertentu yang menerimanya.

TAMAT



© Karya Pengarang Lain

I Know More What You Did Last Holiday




I Know More What You Did Last Holiday






Rina

Kira-kira jam 9 pagi setelah berolahraga dan sarapan teleponku berbunyi, ternyata yang menelepon adalah teman dekatku, Dian. Dia mengajakku untuk menemaninya ke villanya di Bogor, katanya terjadi suatu masalah dan harus segera kesana. Hari itu kebetulan sedang liburan akhir semester, kupikir karena aku juga sedang nganggur apa salahnya kutemani Dian ke villanya.
Jam 10 kurang terdengar klakson mobil Dian di depan rumahku, aku langsung bergegas keluar setelah pamitan pada orang di rumah. Kami tiba setelah beberapa jam perjalanan, disana kami disambut oleh penjaga villa Dian, Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih sehat dan gagah, dia adalah penduduk desa dekat villa ini. Menurut Dian, Pak Riziek orangnya baik dan bisa dipercaya karena sudah 4 tahun dia bekerja pada keluarganya dan pekerjaannya selalu rapi.


Berbeda denganku, sejak awal aku sudah berfirasat buruk pada orang tua itu, beberapa kali aku memergokinya sedang menatapi dengan tajam bagian tubuh tertentu dari Dian maupun teman wanita lainnya yang pernah berkunjung ke villa ini, termasuk juga diriku terlebih ketika kami sedang berenang di halaman belakang villa ini. Beberapa kali aku mengadukan hal ini pada Dian, namun tidak pernah ditanggapi serius, malah aku dianggap mudah berprasangka buruk. Hingga pada suatu saat firasat buruk itu benar-benar terjadi bahkan ikut menimpa diriku.

Pak Riziek membawa kami ke ruang tengah dimana sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi Dian langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya yang telah terjadi. Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, yang katanya adalah pokok permasalahannya.

Kami lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya. Betapa terkejutnya kami bak disambar petir disiang bolong, bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto erotis kami pada pesta seks liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Dian, foto bugil teman-teman lainnya, juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masing-masing yang diabadikan oleh pacar Dian dan Vira yang berprofesi sebagai fotografer.

“Pak..apa-apaan ini, darimana barang ini??” tanya Dian dengan wajah tegang.
“Hhhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci..” jawabnya sambil tertawa.
“Apa..kurang ajar, Pak.. bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya!!” bentak Dian marah dan menundingnya.
“Wah..wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan” mereka berdua tertawa-tawa memandangi kami.
“Baik..kalau gitu serahkan klisenya, dan bapak boleh pergi dari sini” kata Dian dengan ketus.
“Iya pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya” aku ikut memohon.
“Ooo..nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya. “Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian!” kataku tak sabaran.

Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena tatapan mereka seolah menembus ke balik pakaian kami. Kemudian Pak Riziek maju mendekati Dian dan beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudara majikannya.
“Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya!!” bentak Dian sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
“Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah.. dasar orang kampung!!” aku naik pitam dan kulempar setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek, aku benar-benar tidak terima sahabatku diperlakukan seperti itu.
“Hehehe..ayolah Neng, coba bayangkan, gimana kalo foto-foto itu diterima orang tua, pacar, atau teman-teman di kampus Neng, wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal deh!!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.


Aku sungguh bingung bercampur marah tidak tahu harus bagaimana. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, reaksi pacarku, dan juga karirku di dunia model bisa-bisa hancur gara-gara masalah ini.
Saat itu Pak Usep sudah ada di dekatku dan berjalan mengitariku Pak Riziek mulai mendekati Dian lalu mengelus rambutnya dan bertanya “Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran?”, dengan sangat berat Dian akhirnya hanya menganggukkan pelan.

Aku pun sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, dan setelah kupikir-pikir daripada reputasi kami hancur, lebih baik kami menuruti kemauan mereka, lagipula keperawanan kami toh sudah hilang dan akupun termasuk type cewek yang bebas, hanya saja aku belum pernah melayani orang-orang bertampang seram, dekil dan lusuh seperti mereka ini, juga perbedaan usiaku dengan mereka yang lebih pantas sebagai ayahku

“Ha.. ha.. ha..akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi!!” mereka tertawa penuh kemenangan.
Segera tanpa membuang-buang waktu lagi Pak Riziek menyambar tubuh majikannya itu. Dilumatnya bibir mungil Dian dan tangannya beraksi meremas payudaranya yang masih terbungkus oleh kaos ketat. Saat aku tertegun menyaksikan Dian dipecundangi, mendadak kurasakan sepasang tangan kokoh mendekap pinggangku dari belakang.
“Hhhmm..gimana neng? udah siap dientot?” kurasakan hembusan nafas Pak Usep di telingaku.

Tangan gempalnya mulai meremasi payudara 36B ku, sementara tangan yang lainnya menyingkap rokku dan mulai mengelus-elus pahaku yang putih mulus. Aku tidak tahu harus berbuat apa, didalam hatiku terus berkecamuk antara perasaan benci dan perasaan ingin menikmatinya lebih jauh, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar.

Satu-persatu kancing bajuku dipereteli oleh Pak Usep sehingga nampaklah payudaraku yang masih terbungkus BH pink. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah klistorisku yang masih tertutup celana dalam.
Dengan sekali sentakan kasar ditariknya turun BH-ku, “Whuua..ternyata lebih indah dari yang difoto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina” pujinya ketika melihat payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Kini dengan leluasa tangannya yang kasar itu menjelajahi payudaraku yang mulus terawat dengan melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada putingku.

Tak jauh dariku Pak Riziek telah mendesak Dian ke arah tembok. Kaos dan bra-nya sudah terangkat sehingga menampakkan kedua gunung kembarnya yang indah. Penjaga villa bejad itu sedang asyik menjilati dan meremas-remas payudara sahabatku itu sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam celana Dian. Adegan itu membuatku marah sekaligus terangsang.

Tiba-tiba Pak Usep menghempaskan diri ke sofa di belakangnya sehingga diriku ikut tertarik ke belakang dan jatuh di pangkuannya. Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir celana dalamku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya seperti ular hendak memasuki sarangnya. Perasaan tidak berdaya begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada buah dadaku, dan permainan jarinya pada vaginaku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai.

Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemmhh”.
“Kita pindah ke kamar aja ya Neng, biar lebih afdol” usulnya.

Sebelum aku sempat menjawab apa-apa tiba-tiba badanku sudah diangkat olehnya menuju ke kamar terdekat lalu dilemparnya dengan kasar di atas tempat tidur spring bed itu membuatku sedikit terkejut. Tanpa menutup pintu terlebih dahulu Pak Usep langsung membuka pakaiannya, begitu celana dalamnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya.

Aku memandang ngeri pada penis hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar sesuai tubuhnya yang tambun, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Pak Usep yang sudah telanjang bulat mendekatiku sambil tertawa cengegesan. Aku menggeser mundur tubuhku sampai akhirnya terdesak diujung ranjang. Permohonanku agar dia menghentikan niatnya agaknya tidak membuatnya tergerak, malah membuatnya semakin bernafsu.

Sekarang dia membuka tanganku yang menutupi dadaku. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan pakaianku mulai terlepas satu persatu, terakhir dia menarik lepas celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku.
“Enak, baru pejunya aja udah enak, apalagi memeknya” katanya.

Aku jadi ngeri dan jijik dengan tingkahnya itu.
Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak melata seperti ular menjelajahi tubuhku.
“Tenang aja neng, asal neng nurut pasti klisenya saya kembaliin, tapi kalo nggak..” dia melanjutkan kata-katanya dengan mengencangkan remasan pada payudara kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit pak!!”.
Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku.
“Uuuhh..sakit ya neng, mana yang sakit..sini bapak liat” katanya sambil mengusap-usap payudaraku yang memerah akibat remasan brutal itu. Dia lalu melumat payudaraku sementara tangan satunya meremas-remas payudara yang lain.

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, nampaknya aku harus melupakan sejenak rasa marah, jijik, dan benci untuk menikmati perkosaan ini karena perlahan-lahan akupun sudah mulai ‘merasakan enaknya’. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang vaginaku sambil mulutnya terus melumat payudaraku, terasa putingku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu. Puuiihh..bau nafasnya sungguh tidak sedap, namun naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.

Pak Usep lalu berlutut sehingga penisnya kini tepat dihadapanku yang sedang duduk bersandar di ujung ranjang.
“Ayo neng, kenalan nih sama kontol bapak, hehehe..!” katanya sambil menggosokkan penis itu pada wajahku.
Tercium bau yang memualkan ketika penisnya mendekati bibirku, sialnya lagi Pak Usep malah memerintahakan untuk menjilatinya dulu sehingga bau itu makin terasa saja. Karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa mulai menjilati penis hitam yang menjijikkan itu mulai dari kepalanya sampai buah zakarnya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Entah mengapa lama-lama bau tidak enak itu tidak menggangguku lagi, justru aku semakin bersemangat melakukan oral sex itu.

Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik klistorisku. Pak Usep kini berada di bawahku dan menjilati belahan kemaluanku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalam lubang itu sehingga kemaluanku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan dengan penisnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan cairan cinta menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya orgasme. Tubuhku lemas diatas tubuh tambunnya dan tangan kananku tetap menggenggam batang penisnya.

Setelah puas menegak cairan cintaku, Pak Usep bangkit berdiri di pinggir ranjang. Tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala penisnya pada vaginaku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Batang yang gemuk itu dipaksakannya masuk ke vaginaku yang cukup sempit sehingga aku merintih kesakitan. Namun hal itu bukannya membuatnya iba malahan terus mejejalkan penisnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh penis itu tertancap.
“Ooohh..uueenak tenan, memeknya foto model emang beda!”
Oh, aku benar-benar telah disetubuhi olehnya, oleh orang kampung yang bau dan kasar, orang yang sangat kubenci karena menjebakku, aku juga kesal pada diriku sendiri yang tak berdaya melawan malah terangsang.

Puas menikmati jepitan dinding vaginaku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju mundur terkadang diputar seperti mengaduk adonan. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari.

Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan gairahnya, buktinya dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap payudaraku yang tergoncang-goncang. Syaraf-syaraf pada daerah sensitif di tubuhku bereaksi memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Suasana panas terhenti sejenak saat terdengar telepon di ruang tamu berdering. Pak Usep menghentikan pompaannya dan menarik lepas penisnya dari vaginaku, benda itu nampak mengkilap karena basah oleh cairan cintaku. Akhirnya aku dapat mengatur kembali nafasku yang sudah tersengal-sengal.

“Heh, siapa tuh.. ganggu acara orang aja, inget ya jangan berani omong sembarangan kalo mau klisenya kembali” ancamnya sambil menarik rambutku.
Aku hanya mengangguk ketakutan lalu bangkit untuk menyambut telepon. Namun baru saja aku sampai di depan meja rias dekat pintu keluar, sudah terdengar suara “Halo..!” pertanda Dian sudah menerima telepon.
Aku sempat kaget katika membalikkan badan tiba-tiba Pak Usep sudah berdiri di belakangku dan menyeringai “Yuk neng, kita terusin entotannya, kan teleponnya udah dijawab”.
Aku memandangi bangsat ini dengan jijik, sosoknya yang pendek hanya sampai sebatas hidungku dengan perut buncit dengan kemaluan menggantung, dada berbulu, wajahnya pun jauh dari tampan, mirip tuyul yang sering kulihat di film-film, sungguh tidak pernah terbayangkan olehku aku dapat disetubuhi olehnya.

Dia menggiringku ke arah meja rias lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada sisi meja rias. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya.
“Nah, ini baru namanya pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan kembali penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batang yang kekar itu membobol pantatku.

Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat penis itu pelan-pelan memasuki vaginaku. Di tengah desisanku aku sempat mendengar suara bentakan Dian dari luar kamar, saat itu aku belum tahu apa yang terjadi karena akupun sedang sibuk dengan “siluman buncit” ini. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Cermin didepanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras.
“Ooohh.. enak banget si neng ini!” celotehnya.

Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme. Aku mengira dia juga akan segera memuntahkan maninya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas menyetubuhiku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara dan kalung pemberian pacarku terayun kesana-kemari.

Sudah cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru aku mulai kembali menikmatinya.Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan, atau mungkin dia sudah minum obat kuat sebelumnya. Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun..oohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya.
Dia lalu duduk di kursi meja rias, “Sini neng, bapak pangku!” suruhnya.

Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku bahkan menuntun penisnya memasuki milikku. Harapanku adalah agar dia cepat selesai dan aku segera bebas dari derita birahi ini. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya, Pak Usep pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba payudaraku, mulutnya menangkap payudara yang satu lagi. Susuku disedot dan dikulumnya dengan rakus, kumisnya yang terkadang menyapu permukaan dadaku memberi rasa geli dan sensasi yang khas.

Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan.
“Uuugghh..oohh..memek neng enak banget, nngghh..memek foto.. model..!!”.
Desahanku bercampur baur dengan lenguhannya memenuhi kamar itu. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat mencapai klimaks berikut, cairanku kembali tercurah sampai membasahi kursi rias itu, secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada payudaraku. Kemudian dia melepaskanku dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada pelernya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan rasa kewanitaanku.

Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas “Ooohh..neng..bapak..keluar!” dan disusul ‘creett..creet..’ maninya menyemprot dengan deras ke wajah juga dadaku, lalu dengan paksa dijejalinya penis itu ke mulutku.
“Telen pejunya neng..awas jangan dimuntahin!” perintahnya.

Aku yang saat itu tidak siap tentu saja gelagapan menerima semprotan itu sehingga yang menyemprot dimulutku sebagian meleleh keluar di sekitar bibirku, sedangkan sisanya kutelan hingga tetes terakhir dan kurasakan batang itu mulai menyusut. Setelah itu Pak Usep mengolesi maninya yang berceceran di wajah dan dadaku sampai merata, sekarang tubuhku basah dan berkilau baik oleh peluh dan sperma.

Dipapahnya tubuhku ke ranjang dan dibaringkan. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku “Memek neng enak banget, bapak jadi ketagihan nih!”, Dalam tidurku aku bermimpi pacarku mendatangiku lalu aku mengangis didekapannya dan mencurahkan seluruh kekesalanku padanya bahwa aku telah dijebak oleh dua bandot itu. Tiba-tiba kurasakan dia mulai menciumku sambil meremas buah dadaku seperti yang biasa kami lakukan, juga kurasakan jari-jarinya mulai menggelitik vaginaku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh..aku terbangun..

Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Rupanya ini bukan sekedar mimpi, ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok pacarku itu ternyata Pak Riziek, wajahnya berada dekat vaginaku sambil mengorek-ngorek liang itu dengan jarinya. Aku berusaha bangkit dengan sisa tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan itu dari vaginaku dan langsung kurapatkan pahaku, buru-buru kuraih guling untuk menutupi tubuh telanjangku. Ketika menengok ke samping aku lihat Pak Usep sedang duduk beristirahat di kursi rias sambil mengisap sebatang rokok.

“Kurang ajar, awas..minggir kamu!” aku marah dan membentaknya, tapi dia malahan tertawa.
“He-he-he.. kurang ajar gimana neng? udah dientot aja masih jual mahal..dasar cewek sombong”.
“Perjanjian kita kan udah selesai pak, sekarang mana klisenya..!!” timpalku ketus.
“Eeiit.. selesai gimana neng.. bapak kan belum ngerasain memek neng”.
Sungguh saat itu darahku mendidih, aku benar-benar marah karena merasa dipermainkan, kucoba menggertaknya. “Bangsat..kalian sebaiknya kembalikan sekarang juga atau..!!”.
Namun dengan kalemnya dia menyela, “Atau mau lapor polisi ya neng? Sok aja..kalo neng mau ini tersebar, kita mah ga maksa neng kok” sambil menunjukkan selembar fotoku di kolam belakang bersama Dian dan 2 teman wanita lain yaitu Vira dan Liana, dimana kami berempat berpose tanpa busana.

Ucapan itulah yang membuatku sadar bahwa posisiku sudah ’skak mat’, tidak ada pilihan lain selain membiarkan tubuhku menjadi alat pemuas nafsunya. Aku yang pada dasarnya tegar dan penuh percaya diri jadi takut membayangkan akibatnya kalau berontak, mau taruh dimana mukaku kalau skandal ini tersebar, padahal karirku sebagai model sudah mulai mapan dan mulai menapaki layar kaca sebagai pemain figuran. Aku juga tidak mau teman-temanku yang terlibat dalam foto-foto itu jadi ikut susah gara-gara kami, cukup sudah kami berdua yang jadi tumbal atas semua ini.





Dian

Pak Riziek mengambil kesempatan ketika aku sedang bingung itu dengan menyingkirkan guling yang kupeluk. Dia merenggangkan pahaku sambil mengelus-elusnya, tanganku yang menutupi dada juga disibakkannya. Mulutku mengeluarkan desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh klistorisku dan mengelusnya. Elusannya pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke leher hingga berhenti di payudara kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia mendekatkan mulutnya pada payudaraku dan menangkapnya dengan mulutnya, namun tak sampai setengah menit dia lepaskan lagi, lalu mengendusi payudaraku.
“Puuiihh..sialan lu Sep..lu tadi nyiramin peju di teteknya yah, pantes rada lengket trus baunya aneh!!” omelnya pada Pak Usep.
Pak Usep ketawa cengegesan “Eh.. hehehe sory boss, gak sengaja tadi, abis kocokannya enak pisan sih, jadi aja muncrat kemana-mana”.
“Iya tapi kira-kira dong tuh, kalo udah bau peju gini mana enak diemot” gerutunya.
Aku diam-diam merasa puas “Rasain lu, makan tuh peju dasar goblok” ejekku dalam hati.
“Kalo gitu kita mandiin aja di kolam belakang, kan sekalian kita juga bisa berenang” usul Pak Usep.
“Hmm..iya yah lagian kapan lagi kita bisa berenang di sana mana ada cewek cantiknya lagi” Pak Riziek mengangguk setuju, matanya tidak lepas dari tubuhku sambil jakunnya turun naik.

Kemudian mereka menggiringku ke kolam belakang secara paksa untuk dibasuh dari ceceran sperma di tubuhku. Saat melewati ruang tengah aku melihat tubuh telanjang Dian yang terkulai lemas diatas sofa, daerah kemaluannya sudah basah, buah dadanya penuh bekas cupangan dan tumpahan sperma. Aku kasihan dan ingin melihat sejenak kondisi Dian, tapi tidak diijinkan oleh mereka.

Sesampainya dipinggir kolam tiba-tiba salah seorang mendorong punggungku dari belakang hingga aku terdorong dan “Jbuurr..!!” aku tercebur ke kolam. Aku berenang ke atas dan segera timbul ke permukaan, kusibakkan rambut basahku ke belakang, melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka semakin bergairah sehingga buru-buru ikut nyebur ke kolam dan mengerubungiku seperti semut mengerubungi gula. Tangan-tangan kasar itu mulai menjamahi tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua payudaraku, meremas-remas pantatku, memilin-milin putingku, dan mengusap-usap vaginaku karena kupejamkan mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat.

Tak terasa aku sudah berada di tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh mereka dengan Pak Usep di belakang dan Pak Riziek di depan, keduanya memelukku sehingga posisiku seperti daging burger yang dijepit diantara 2 roti. Pak Riziek menciumi wajahku, sesampainya di bibir, dia langsung melumatnya, lidahnya mendesak-desak ingin masuk ke mulutku, birahiku yang kembali naik membuatku membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-main di mulutku. Sesudah itu mulutnya terus turun sampai ke payudaraku yang sudah bersih dari cipratan mani, dia sudah tidak sabar ingin menikmati payudaraku yang sempat tertunda.

“Enngghh..pak..!” desahku menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat payudaraku secara bergantian. Aku merasakan putingku disedot, digigit pelan bahkan sesekali ditarik oleh mulutnya, sementara telapak tangan Pak Usep bercokol di kemaluanku terus saja menggosok-gosok bibir vaginaku. Di tengah keadaan pasrah dan tidak berdaya itu seakan-akan ada suatu perasaan nikmat yang aneh yang tidak pernah kurasakan selama ini.

Beberapa saat kemudian dia merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya “Neng Rina..bapak ewe sekarang ya!” kata Pak Riziek tidak sabaran.
Aku melihat di bawah air sana, miliknya mulai mendesak masuk ke vaginaku, “Aaahhkk..ahh..pak..!” itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam penis supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil mencengkram lengan Pak Usep yang memelukku.
“Ooohh..” Pak Riziek juga mendesah setelah berhasil menancapkan kejantanannya di dalam kemaluanku.
“Gimana boss?? seret ga memeknya??” tanya Pak Usep pada temannya.
“Buset, seret amat nih memek, udah ga perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga si neng ini ngerawatnya!” puji Pak Riziek sambil mulai menggenjot.
“Lha iya dong boss, dia kan foto model, harus dirawat dong, udah kena peju aja masih wangi gini kok badannya hehehe..!”

Aku mulai merasakan penis itu bergerak keluar masuk pada vaginaku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang dan kasar. Aku mendesah-desah tidak karuan ditambah lagi dari belakang Pak Usep bertubi-tubi mencupangi leher jenjangku serta mempermainkan payudaraku, pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga Pak Riziek makin kesetanan menggenjotku sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat.

“Akkhh.. oohh..ahh..eemmhh..!” eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat Pak Usep dari samping belakang. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar. Aku sudah telanjur dilanda birahi, walaupun menolak, tubuhku berkata lain, aku merem melek menikmati cara mereka mengerjai tubuhku.

Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding kemaluanku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas, otomatis kedua payudaraku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi keganasan Pak Riziek belum tampak mereda, dia masih bersemangat menyodokkan penisnya tanpa mempedulikan vaginaku yang masih terasa ngilu. Aku merasa lelah dan ingin istirahat sejenak maka kudorong tubuh Pak Riziek.
“Udah dulu.. pak..cape..uuhh” aku memelas.

Dia lalu menarik lepas penisnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat sedikit bernafas lega. Kukira dia mengerti dan memberiku waktu, tapi dugaanku salah. Pak Riziek menarik rambutku lalu dibenamkannya kepalaku dalam air dibawa mendekati miliknya. Aku yang tidak siap tentu saja meronta-ronta melepaskan diri dan segera timbul ke permukaan.

“Mau apa.. pak..jangan kelewatan ya!” protesku terengah-engah.
“Ngga kok, cuma mau buktiin kata Pak Usep, katanya neng jago ngemot kontol, makanya bapak pengen neng ngemot kontol bapak”.
Wajahku merah padam dan terdiam, kutatap mereka dengan tatapan penuh kebencian, namun tak dapat kupungkiri bahwa aku pun sempat merasa senang dengan perlakuan mereka.
“Ayo.. sini dong neng, emutin yang punya bapak!”

Aku melihat ke bawah air sana, batang kemaluan Pak Riziek yang baru saja mengacak-acak vaginaku, benda itu begitu panjang dan kokoh, lebih panjang daripada milik Pak Usep walaupun diameternya lebih kecil, dikelilingi bulu-bulu yang sudah agak beruban. Diraihnya tanganku dan didekatkan ke sana, akupun mulai menggenggamnya, walaupun sudah berumur tapi kemaluannya masih keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus ketika jari-jari lembutku mulai mengocok dan membelai buah zakarnya.

“Gimana Pak Riziek? Bener kan ngocoknya dahsyat!?” kata Pak Usep di belakangku.
“Wuuiihh..iya loh..tangannya halus banget..tangan sama memek sama enaknya” komentar Pak Riziek.

Pak Usep pun mendekatiku dan meraih tanganku yang satu, lalu diletakkan pada penisnya. Kini penis Pak Usep berada ditangan kiriku dan penis Pak Riziek di tangan kananku, mereka merem melek menikmati pelayananku sambil sesekali membelai bagian-bagian terlarangku.

“Hehehe kayanya si neng ini udah sering ewean ya, abis jago banget” kata Pak Usep.
“Lha iya dong, masa ga liat yang di foto itu, lagian katanya cewek model kaya gini katanya bisa dipake asal ada duit, ya ga neng” ejeknya padaku sambil nyengir.
“Wahahaha..kalo gitu kita untung banget bisa ngewe cewek model, gratis lagi” timpal Pak Usep.

Hatiku benar-benar panas mendengar olok-olokkan mereka yang menghina dan merendahkanku itu, ingin rasanya menarik penis itu sampai putus mumpung masih dalam genggamanku, namun apa dayaku karena aku hanya seorang gadis yang tidak akan menang melawan mereka, lagipula sudah tanggung, lebih baik kubuat mereka puas dan setelah itu habis perkara.

“Nah..sekarang bapak pengen ngerasain mulut neng, ayo.. emut tuh di bawah sana!” desaknya sambil mencengkram leherku.
Sebelum kusetujui kepalaku sudah dibenamkan ke air. Di bawah air kuraih penisnya dan kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu sampai mentok di tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara kurasakan sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Gairahku makin naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada vagina atau duburku.

Aku makin liar mengemutnya berharap dia cepat keluar, karena aku sendiri sudah merasa sesak di air sementara tangannya menahan kepalaku di sana. Harapanku mulai nampak saat gerakan pantatnya makin cepat dan rambutku dijambaknya. Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa langit-langit mulut dan tenggorokanku, terpaksa aku menelan spermanya, rasanya asin dan kental, hueek..!! Seiring dengan melemahnya cengkramannya aku segera timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap rindu udara segar sehingga buah dadaku ikut naik turun seirama nafasku yang kacau.

Mimik wajah Pak Riziek menunjukkan dia puas sekali berorgasme di mulutku. Kulihat penisnya sudah tidak setegang tadi lagi, ukurannya menyusut dan berkerut oleh keriput.Beberapa menit kami beristirahat, tak lepas dari olok-olokan dan omongan jorok mereka yang menjijikkan, juga tak lupa mereka menjamahi tubuhku. Setelah itu Pak Riziek menyuruhku naik ke pinggir kolam.

“Gantian neng..sekarang bapak di bawah, neng di atas!”
Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di atas lantai marmer. Ada sedikit rasa senang karena ini merupakan salah satu posisi favoritku yang sering kulakukan bersama pacarku dan cowok-cowok yang kencan denganku. Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang sudah kembali mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku.

Pak Usep menonton adeganku sambil tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku.
“Ayo..goyang neng..oohh!” Pak Riziek sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga Pak Usep, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia keluar dari kolam dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku.
“Emut neng..ayo buka mulutnya!” sambil menjejalinya ke mulutku.

Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Pak Usep. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmatiku, tiba-tiba pintu terbuka, Dian muncul dengan mengenakan kimono kuning, sepertinya dia baru selesai mandi karena rambutnya masih basah. Dia hanya bisa melongo melihat aku sedang dikerjai. Malu sekali aku dipecundangi di hadapan sahabatku sendiri, mulutku terisi penis sehingga aku hanya bisa berseru dalam hati, “Dian..tolong jangan liat sini, pergi kamu Dian!”

Tetap dalam posisinya Pak Riziek menengok ke samping dan menyapa Dian, “Hai, Neng Dian udah bangun toh..!”.
“Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya, Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..!” sambung Pak Usep.
Beberapa saat kemudian barulah Pak Usep mencabut penisnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan Pak Riziek. Pak Usep mendekati Dian, lalu terdengar Dian marah dan membentak-bentak Pak Usep soal klise. Namun Pak Usep dengan santainya menepuk pantat Dian. Dian yang sudah tidak bisa omong apa-apa lagi hanya bisa pasrah. Bagian bawah kimononya disingkap dan mulai digerayangi Pak Usep.

“Hooi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener, pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..!”
Pak Riziek sendiri tidak peduli dengan omongan temannya, dia sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit dalam posisi ‘woman on top’ sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu “Aaahh..!!” Dengan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit yang sudah menguning. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup oleh air kolam maupun keringat yang mengucur.

Sementara itu tak jauh dari sini, Dian yang sudah terbaring di kursi santai sedang dicumbui habis-habisan oleh Pak Usep, kimononya sudah tersingkap kesana kemari sehingga auratnya terlihat.
“Ganti posisi yah neng” katanya dekat telingaku.
Lalu tubuhku diturunkan dan diperintahkan telungkup. Aku nurut saja, begitu juga ketika posisiku diatur seperti merangkak. Ternyata.. aahh.. dia mencoba menyetubuhiku dari belakang, dia ludahi duburku dan menekan-nekan jarinya di sana untuk membuka jalan bagi penisnya. Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak..jangan di situ.. sakit” ibaku.
“Tahan dikit neng, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang sementara aku merintih-rintih.

Ketika penis itu sudah masuk sebagian, mendadak di sentakkan pinggulnya dengan kasar sehingga dengan reflek aku menjerit histeris bagaikan srigala terluka. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudaraku yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan Pak Riziek, juga dengan rintihan Dian yang sedang disetubuhi Pak Usep dalam posisi telentang di kursi santai. Lama-lama rasa sakit oleh sodokkannya mulai sirna berganti dengan rasa nikmat, apalagi waktu dia tarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku dengan lembut, rasanya seperti dicium pacarku. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dadaku dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulutku dengan lembut.

Akhirnya kembali kukeluarkan cairan hangat dari vaginaku bersamaan dengan desahan orgasmeku. Permainan gila itu membuatku merem-melek kesetanan, tapi juga banyak menguras tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Aku masih sempat melihat Pak Riziek menuju Dian dan Pak Usep yang masih bergelut sebelum pingsan yang kedua kalinya. Siraman air membangunkanku, Pak Riziek sudah disampingku menawarkan segelas air yang segera kuminum, langit sudah gelap dan arlojiku menunjukkan jam 7 kurang. Kuhampiri dan kupeluk Dian yang menangis sesegukan di tepi kolam, kuselimuti tubuh telanjangnya dengan kimononya, kuelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Omongan dan olok-olokkan mereka yang tidak senonoh itu tidak kuhiraukan, aku tetap memeluk Dian dan mataku menatap marah pada mereka.

Pak Riziek keluar untuk membeli makanan. Sambil menunggu, Pak Usep menyuruh kami menemaninya berendam di kolam dan memijit tubuhnya. Dimintanya aku melakukan ‘Thai Massage’ pada punggungnya dan Dian disuruh memijati pundaknya sambil tubuhnya digerayangi. Tak lama, Pak Riziek kembali dengan empat bungkus nasi goreng dan beberapa sachet ‘Irex’ untuk persiapan nanti malam katanya. Kami hanya diijinkan memakai kimono tanpa apapun dibaliknya, jadi kalau tangan mereka lagi ‘gatal’ dengan mudah dapat menjamah tubuh kami.

Malamnya sebelum tidur ‘pesta’ dilanjutkan. Kami main berempat sekaligus di kamar tempat aku dikerjai tadi. Aku bergoyang di atas penis Pak Usep yang sedang asyik menjilati vagina Dian yang menaiki wajahnya. Mulut kami sibuk melayani penis Pak Riziek yang mengacung diantara wajah kami, Dian memasukkan benda itu ke mulutnya dan aku mengulum buah zakarnya, demikian kami bergantian menjilati dan mengulumnya. Aku mencapai klimaks bersamaan dengan muncratnya sperma Pak Riziek yang membasahi wajah kami. Aku rebah di samping mereka dengan wajah belepotan sperma. Mereka mulai mengeroyok Dian, tubuhnya mereka olesi baby oil hingga nampak licin berkilau, Pak Riziek menusuk vaginanya sambil berbaring dan Pak Usep menusuk anusnya dari belakang.

Melihat Dian yang meringis dan merintih itu aku jadi kasihan, maka dengan sempoyongan kudekati Pak Usep yang sedang menyodomi Dian, kutarik dan kutindih tubuh gendutnya, dengan sigap kulumat bibirnya dan kugenggam penisnya untuk kumasukkan ke vaginaku. Kuserang dia dengan gencar hingga dia menumpahkan spermanya di rahimku, untung saat itu aku sedang dalam masa ’safe’ sehingga tidak perlu takut hamil. Pokoknya malam itu kami digarap habis-habisan, bahkan membalas SMS pacarku pun sambil dientot, jadi aku ditindih Pak Riziek yang menaik-turunkan tubuhnya, sementara tanganku mengetik SMS di ponselku. Ironis memang, aku menulis kata-kata manis untuk pacarku namun disaat yang sama aku menikmati persetubuhan dengan lelaki lain.

Mereka menyudahi ‘pesta’ ini sekitar jam 10 malam, kami berempat tertidur di ranjang itu tanpa busana. Pak Riziek tidur sambil menggenggam payudaraku, Pak Usep tidur sambil memeluk Dian. Besoknya sambil menunggu kamar mandi yang sedang dipakai Dian dan Pak Riziek, Pak Usep menyuruhku mengocok penisnya dengan payudaraku. Kujepit penisnya dengan daging kenyalku, pijatanku membuat pemiliknya merem melek keenakan sambil meremas rambutku. Beberapa menit kukocok dia dengan payudaraku sampai maninya muncrat di wajahku, tapi kali ini tidak terlalu banyak lagi.

Setelah Dian dan Pak Riziek selesai mandi, kami melanjutkan mainnya di bawah siraman air hangat. Pak Usep membaluriku dengan sabun cair, tapi lebih tepat dibilang menggerayangi daripada menyabuni. “Buka pahanya neng, jembutnya mau bapak keramas!”, direnggangkannya pahaku dan tangannya yang bersabun mulai mengusapi kelaminku sampai berbusa. Sementara akupun menggenggam penisnya dan secara reflek mengocoknya.

Dan usailah mimpi buruk ini, mereka akhirnya mengembalikan klise itu setelah puas menikmati kami. Kami memeriksa dengan teliti, apakah ada kekurangan atau tidak agar tidak bermasalah kemudian hari. Sebelum pergi ternyata Pak Riziek memintaku untuk terakhir kali meng-oralnya. Dengan jengkel aku mengeluarkan penisnya dari balik celananya, kukulum benda itu di hadapan Dian dan Pak Usep.

Belakangan Pak Usep pun menyuruh Dian melakukan hal yang sama padanya. Tidak sampai 10 menit akhirnya dia ejakulasi disusul Pak Usep, kuusahakan agar maninya tidak meleleh keluar sebab aku sudah berpakaian lengkap dan tidak mau bajuku kotor oleh mani si bangsat ini, kuhisap kuat-kuat sampai dia melenguh panjang. Segera setelah itu Dian mengusir mereka dari villanya, meskipun diusir dengan galak, tapi mereka malah tersenyum puas dan tertawa-tawa.

Tak lama sesudah peristiwa itu Pak Riziek mengundurkan diri. Sejak itu Dian kapok, tidak mau lagi menyewa orang untuk menjaga villanya. Pengalaman gila itu belum pernah kuceritakan pada keluarga maupun pacarku, hanya kami berdua saja yang tahu. Hari-hari pertama setelah itu aku sulit berkonsentrasi, yang terlintas di ingatanku hanya permainan kasar mereka ketika memperkosaku dan terkadang ada perasaan ingin mengalaminya lagi, tapi dilain sisi, perasaan halusku mengingatkan bahwa itu adalah perkosaan brutal yang tidak pantas diingat kembali, biarlah dari peristiwa ini kami dapat mengambil hikmahnya. Aku hanya bisa mencurahkan perasaanku yang bercampur aduk antara benci, dendam, rindu, dan horny ini melalui tulisanku ini, seperti yang pernah dilakukan oleh temanku beberapa waktu lalu.



© Karya Pengarang Lain

I Know What You Did Last Holiday




I Know What You Did Last Holiday
Juli 8, 2007 




Dian

Pada suatu pagi telepon di kamarku berbunyi, dengan malas kupaksakan diri mengangkatnya. Ternyata telepon itu dari Pak Riziek, tukang kebun dan penjaga villa-ku. Rasa kantukku langsung hilang begitu dia menyuruhku untuk segera datang ke villa, dia bilang ada masalah yang harus dibicarakan di sana. Sebelum kutanya lebih jauh hubungan sudah terputus. Hatiku mulai tidak tenang saat itu, ada masalah apa di sana, apakah kemalingan, kebakaran atau apa. Aku juga tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi saat itu karena saat itu kedua orangtuaku sedang di luar kota.
Segera setelah siap aku mengendarai mobilku menuju ke villa-ku di Bogor, tidak lupa juga kuajak Rina, sahabatku yang sering pergi bareng untuk teman ngobrol di jalan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya sudah memutih, namun perawakannya masih sehat dan gagah. Dia adalah penduduk desa dekat villa ini, sudah 4 tahun sejak ayahku membeli villa ini Pak Riziek ditugasi untuk menjaganya. Kami sekeluarga percaya padanya karena selama ini belum pernah villa-ku ada masalah sampai suatu saat akhirnya aku menyesal ayahku mempekerjakannya.


Pak Riziek mengajak kami masuk ke dalam dulu. Di ruang tamu ternyata sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya aku disuruh datang.

Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, dia mengatakan bahwa masalah inilah yang hendak dibicarakan denganku. Aku dan Rina lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya. Betapa terkejutnya kami bak disambar petir di siang bolong, bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto erotis kami yang diabadikan ketika liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Rina, dan juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masing-masing.

“Pak.., apa-apaan ini, darimana barang ini..?” tanyaku dengan tegang.
“Hhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci.” jawabnya sambil sedikit tertawa.
“Apa, kurang ajar, Pak.. Bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya..!” kataku dengan marah dan menundingnya.

Aku sangat menyesal kenapa begitu ceroboh membiarkan klise itu tertinggal di villa, bahkan aku mengira barang itu sudah dibawa oleh pacarku atau pacar Rina. Wajah Rina juga ketika itu juga nampak tegang dan marah.
“Wah.. wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan?” mereka berdua tertawa-tawa memandangi kami.

“Baik, kalau gitu serahkan klisenya, dan Bapak boleh pergi dari sini.” kataku dengan ketus.
“Iya Pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya.” tambah Rina memohon.
“Oo.. nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya.
“Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian..!” kata Rina dengan ketus.

Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena mereka mengamati tubuh kami dengan tatapan lapar. Kemudian Pak Riziek maju mendekatiku membuat degup jantungku makin kencang. Beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudaraku.

“Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya..!” bentakku sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
“Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah..? Dasar orang kampung..!” Rina menghardik dengan marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek.
“Hehehe.. ayolah Neng, coba bayangakan, gimana kalo foto-foto itu diterima orangtua, pacar, atau teman-teman di kampus Neng? Wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal deh..!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.

Aku tertegun, pikiranku kalut, kurasa Rina pun merasakan hal yang sama denganku. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, dan reaksi pacarku, apalagi Rina yang berprofesi sebagai model pada majalah ***(edited), bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

Pak Riziek kembali mendekatiku dan meraba pundakku, sementara itu Pak Usep mendekati Rina lalu mengelilinginya mengamati tubuh Rina.
“Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran..?” tanyanya sambil membelai rambutku yang sebahu lebih.
Kupikir-pikir untuk apa lagi jual mahal, toh kami pun sudah bukan perawan lagi, hanya saja kami belum pernah bermain dengan orang-orang bertampang kasar seperti mereka.

Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat menganggukkan kepala saja.
“Ha.. ha.. ha.. akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi..!” mereka tertawa penuh kemenangan.
Aku hanya dapat mengumpat dalam hati, “Bangsat kalian, dasar tua-tua keladi..!”
Pak Riziek memelukku dan tangannya meremas-remas payudaraku dari luar, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulutku. Perasaan geli, jijik dan nikmat bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang mulai naik.

Tangannya kini makin berani menyusup ke bawah kaos ketat lengan panjang yang kupakai, terus bergerak menyusup ke balik BH-ku. Degub jantungku bertambah kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi jari-jarinya turut mempermainkan putingku. Tanpa terasa pula lidahku mulai aktif membalas permainan lidahnya, liur kami menetes-netes di pinggir mulut.

Nasib Rina tidak beda jauh denganku, Pak Usep mendekapnya dari belakang lalu tangannya mulai meremas payudara Rina dan tangan satunya lagi menaikkan rok selututnya sambil meraba-raba paha Rina yang jenjang dan mulus. Satu-persatu kancing baju Rina dipreteli sehingga nampaklah BH-nya yang berwarna merah muda, belahan dadanya, dan perutnya yang rata. Melihat payudara 36B Rina yang menggemaskan itu Pak Usep makin bernafsu, dengan kasar BH itu ditariknya turun dan menyembul lah payudara Rina yang montok dengan puting merah tua.

“Whuua.. ternyata lebih indah dari yang di foto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina,” katanya.
Pak Usep menghempaskan diri ke sofa, dibentangkannya lebar-lebar kedua belah kaki Rina yang berada di pangkuannya. Tangannya yang semula mengelus-elus pahanya mulai merambat ke selangkangannya, jari-jari besarnya menyelinap ke pinggir celana dalam Rina. Ekspresi wajah Rina menunjukkan rasa pasrah tidak berdaya menerima perlakuan seperti itu, matanya terpejam dan mulutnya mengeluarkan desahan.
“Eeemhh.. uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemhh..!”

Kemudian Pak Usep menggendong tubuh Rina, mereka menghilang di balik kamar meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Setelah menaikkan kaos dan BH-ku, kini tangannya membuka resleting celana panjangku. Dia merapatkan tubuhku pada tembok. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang menggerayangi tubuhku ini adalah pacarku, Yudi. Tua bangka ini ternyata pintar membangkitkan nafsuku. Sapuan-sapuan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja.

Sekarang kurasakan tangannya sudah mulai menyelinap ke balik CD-ku, diusap-usapnya permukaan kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat itu.
“Sshh.. eemhh..!” aku mulai meracau tidak karuan saat jari-jarinya memasuki vaginaku dan memainkan klistorisnya, sementara itu mulutnya tidak henti-hentinya mencumbu payudaraku, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya.
“Hehehe.. Neng mulai terangsang ya?” ejeknya dekat telingaku.

Tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya dan dengan kasar didorongnya tubuhku hingga terjatuh di sofa. Sambil berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu. Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Gila, ternyata penisnya besar juga, sedikit lebih besar dari pacarku dan dihiasi bulu-bulu yang sudah beruban. Kemudian dia menarik lepas celanaku beserta CD-nya sehingga yang tersisa di tubuhku kini hanya kaos lengan panjang dan BH-ku yang sudah terangkat.

Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya. Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi daerah selangkanganku, seolah-olah seperti monster lapar yang siap memangsaku. Pak Riziek membenamkan wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia melaahap dan menyedot-nyedot vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Sesekali dia mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anusku. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang diiringi erangan nikmat.

Tidak lama kemudian akhirnya kurasakan tubuhku mengejang, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan cintaku membasahi mulut dan jari-jari Pak Riziek.
“Sluurrpp.. sluurpp.. sshhrrpp..” demikian bunyinya ketika dia menghisap sisa-sisa cairan cintaku.
Disuruhnya aku membersihkan jari-jarinya yang berlepotan cairan cinta itu dengan mengulumnya, maka dengan terpaksa kubersihkan jari-jari kasar itu dengan mulutku.

“Memek Neng Dian emang enak banget, beda dari punya lonte-lonte di kampung Bapak,” celetuknya sambil menyeringai.
“Sialan, masa gua dibandingin sama lonte kampung..!” umpatku dalam hati.
“Nah, sekarang giliran Neng merasakan kontol Bapak ya..!” katanya sambil melepas kaos dan BH-ku yang masih melekat.
Sekarang sudah tidak ada apapun yang tersisa di tubuhku selain kalung dan cincin yang kukenakan.

Dia naik ke wajahku dan menyodorkan penisnya padaku. Ketika baru mau mulai, tiba-tiba telepon di dinding berbunyi memecah suasana.
“Angkat teleponnya Neng, ingat saya tahu rahasia Neng, jadi jangan omong macam-macam,” ancamnya.
Telepon itu ternyata dari Yudi, pacarku yang mengetahui aku sedang di villa dari pembantu di rumahku. Dengan alasan yang dibuat-buat aku menjawab pertanyaannya dan mengatakan aku di sini baik-baik saja.

Ketika aku sedang berbicara mendadak kurasakan sepasang tangan mendekapku dari belakang dan dekat telingaku kurasakan dengus napasnya. Tangan itu mulai usil meraba payudaraku dan tangan satunya lagi pelan-pelan merambat turun menuju kemaluanku, sementara pada leherku terasa ada benda hangat dan basah, ternyata Pak Riziek sedang menjilati leherku. Penisnya yang tegang saling berhimpit dengan pantatku. Aku sebenarnya mau berontak namun aku harus bersikap normal melayani obrolan pacarku agar tidak timbul kecurigaan.

Aku hanya dapat menggigit bibir dan memejamkan mata, berusaha keras agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Dasar sial, si Yudi mengajakku omong panjang lebar sehingga membuatku makin menderita dengan siksaan ini. Sekarang Pak Riziek menyusu dariku, tidak henti-hentinya dia mengulum, menggigit dan menghisap putingku sampai memerah.

Akhirnya setelah 15 menit Yudi menutup pembicaraan, saat itu Pak Riziek tengah menyusu sambil mengorek-ngorek kemaluanku, aku pun akhirnya dengan lega mengeluarkan erangan yang dari tadi tertahan.
“Heh, sopan dikit dong..! Tau ngga saya tadi lagi nelepon..!” marahku sambil melepas pelukkannya.
“Hohoho.. maaf Neng, saya kan orang kampung jadi kurang tau sopan santun, eh.. omong-omong itu tadi pacar Neng ya? Tenang aja habis merasakan kontol saya pasti Neng lupa sama cowok itu..!” ejeknya dan dia kembali memeluk tubuhku.

Disuruhnya aku duduk di sofa dan dia berdiri di hadapanku, penisnya diarahkan ke mulutku. Atas perintahnya kukocok dan kuemut penis itu, pada awalnya aku hampir muntah mencium penisnya yang agak bau itu, namun dia menahan kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya.
“Iseepp, isep yang kuat Neng, jangan cuma dimasukin mulut aja..!” suruhnya sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulutku.
Sayup-sayup aku dapat mendengar erangan Rina dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.

Lama kelamaan aku sudah dapat menikmatinya, tangannya yang bergerak lincah mempermainkan payudaraku dan memilin-milin putingnya membuatku semakin bersemangat mengulum dan menjilati kepala penisnya.
“Naahh.. gitu dong Neng, ayoo.. terus.. Neng jilatin ujungnya, eengh.. bagus..!” desahnya sambil menjambak rambutku.
Selama 15 menit aku mengkaraokenya dan dia mengakhirinya dengan menarik kepalaku.

Setelah itu dibaringkannya tubuhku di sofa, dia lalu membuka lebar-lebar kedua pahaku dan berlutut di antaranya. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku.

Penisnya meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah pembantuku.

Sambil menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan payudaraku, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantatku. Erangan panjang keluar dari mulutku ketika mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga kelihatan mengkilat. Tanpa memberiku kesempatan beristirahat dia menaikkan tubuhku ke pangkuannya. Aku hanya pasrah saja menerima perlakuannya.

Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun. Pak Riziek menikmati goyanganku sambil ‘menyusu’ payudaraku yang tepat di depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Terkadang aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan lelaki muda dan tampan.

Kali ini dia membalikkan badanku hingga menungging. Disetubuhinya aku dari belakang, tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, atau mungkin sebelumnya dia sudah minum obat kuat atau sejenisnya, ah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting dia telah memberiku kenikmatan luar biasa.

Sudah lebih dari setengah jam dia menggarapku. Tidak lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua payudaraku diremasnya dengan brutal sehingga aku berteriak merasakan sakit bercampur nikmat. Setelah itu dia menarik lepas penisnya dan naik ke dadaku. Di sana dia menjepitkan penisnya yang sudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaraku, lalu dikocoknya sampai maninya menyempot dengan deras membasahi wajah dan dadaku.

Aku sudah kehabisan tenaga, kubiarkan saja maninya berlepotan di tubuhku, bahkan yang mengalir masuk ke mulut pun kutelan sekalian. Sebagai ‘hidangan penutup’, Pak Riziek menempelkan penisnya pada bibirku dan menyuruhku membersihkannya. Kujilati penis itu sampai bersih dan kutelan sisa-sisa maninya. Setelahnya dia meninggalkanku terbaring di sofa, selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi karena sudah tidak sadarkan diri.

Begitu aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku menemukan diriku masih bugil, sisa-sisa sperma kering masih membekas pada wajah dan dadaku, sekujur tubuhku terutama dada penuh dengan bekas cupangan yang memerah. Aku melihat sekeliling, hening tanpa suara, entah kemana Rina dan kedua ‘kambing bandot’ itu. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi, aku menuju kamar mandi karena ingin kencing, lalu kunyalakan shower dan kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa persetubuhan tadi. Dalam hati aku masih merasa marah, kesal, dan sedih karena dijebak dan diperkosa seperti itu, namun setiap teringat yang barusan, aku malah ingin mengulanginya lagi.

Sehabis mandi, kepenatan tubuhku terasa mulai berkurang, kuraih kimono kuning dan memakainya tanpa memakai apa-apa di baliknya. Ketika aku keluar kamar mandi masih belum merasakan tanda-tanda keberadaan mereka di sini, begitu juga kamar yang tadi dipakai Rina dan Pak Usep, di sana hanya kudapati ranjang yang sudah berantakan dan masih tercium aroma sperma bekas pertarungan tadi. Pakaian Rina dan Pak Riziek juga masih berceceran di ruang tamu. Terlintas di benakku saat itu kolam renang, ya mereka pasti di sana.

Aku segera menuju kolam di belakang untuk memastikan. Dugaanku ternyata tepat, di sana terlihat pemandangan yang membuat darah bergolak. Di tepi kolam itu Rina sedang dikerjai oleh mereka berdua. Dia tengah memacu tubuhnya di atas penis Pak Riziek yang berbaring sambil meremasi dadanya, sementara mulutnya dijejali oleh penis Pak Usep yang berdiri di sampingnya, tubuh ketiganya basah oleh air kolam, langit senja yang berwarna kuning keemasan menambah erotisnya suasana.





Rina

“Hai, Neng Dian udah bangun toh..!” sapa Pak Riziek.
“Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya, Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..!” sahut Pak Usep.
Rina hanya dapat melirik sayu padaku karena mulutnya penuh oleh penis dan Pak Usep menahan kepalanya. Adegan mesum itu membangkitkan kembali nafsuku, selangkanganku terasa basah.

5 menit kemudian Pak Usep mencabut penisnya dari mulut Rina dan mendekatiku.
“Pak, kapan klisenya kalian kembalikan..?” tanyaku tidak sabar.
“Tenang Neng, sekarang mau pulang juga sudah kemalaman, klisenya pasti kita kasih ke Neng besok,” jawabnya sambil menepuk bahuku.
“Apa..! Besok..? Keterlaluan kalian..!” bentakku.
“Jangan marah-marah gitu dong Neng, besok pagi saya janji pasti ngasih klisenya ke Neng,” katanya sambil memutari tubuhku.

Kurasakan elusan Pak Usep pada paha belakangku, tangannya makin naik menyingkap kimonoku dan akhirnya meremas pantatku.
“Hoi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener, pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..!” serunya pada temannya.
Kupingku benar-benar panas mendengar ejekannya, namun dalam hati aku justru berharap dia berbuat lebih jauh.

“Ooouuhh..!” demikian desahan pelan yang keluar dari mulutku ketika tangan Pak Usep sampai ke belahan kemaluanku.
Jarinya membuka belahan itu dan meraih klistorisnya, daerah sensitif itu dimainkannya sehingga membuatku mendesah dan kedua kakiku terasa lemas tidak bertenaga. Dibaringkannya tubuhku pada kursi santai di tepi kolam itu. Tercium bau rokok murahan dari mulutnya ketika dia melumat bibirku, lidahnya mengelitik lidahku.

Pak Usep melepaskan tali pinggangku sehingga kimonoku terbuka, ciumannya perlahan-lahan turun dari dagu dan leher menuju payudaraku. Sambil melumat payudaraku tangan yang satunya dengan kasar mengobrak-abrik vaginaku.
“Aakkhh.. Pak, sakit.. pelan-pelan Pak..!” rintihku kesakitan.

Aku melihat ke arah Rina yang sedang dikerjai Pak Riziek. Dia sedang dalam posisi dogie, Pak Riziek dari belakang melakukan penetrasi ke lubang anus Rina. Dia menjerit-jerit kesakitan ketika penis besar itu dengan paksa memasuki duburnya yang sempit. Bukannya kasihan tapi nampaknya Pak Riziek malah semakin bergairah melihat penderitaan Rina, ketika sudah masuk setengahnya dihujamkannya penis itu dengan keras, spontan tubuh Rina tersentak dan jeritan panjang yang memilukan keluar dari mulutnya.

Selanjutnya dengan ganas Pak Riziek menyodomi Rina sambil mendesis-desis menikmati penisnya terjepit dubur Rina yang sempit. Aku sangat kasihan melihat penderitaan Rina, tapi apa dayaku karena aku sendiri sedang dalam kesulitan. Kini Pak Usep membuka lebar kedua pahaku, tangan satunya memegang penisnya yang gemuk itu dan menggesek-geseknya pada bibir kemaluanku sehingga aku mendesah nikmat dan tubuhku menggeliat-geliat.

Setelah vaginaku basah kuyup dia menekan penisnya hingga amblas seluruhnya. Aku melihat jelas bagaimana penis itu keluar masuk ke dalam vaginaku. Kenikmatan dahsyat telah melanda tubuhku hingga aku tidak kuasa untuk tidak mengerang. Suara desahan terdengar sahut menyahut di tepi kolam itu. Kemudian aku merasakan tubuhku bagaikan tersengat listrik, aku menjerit sekuat tenaga dan mempererat genggamanku pada pegangan kursi. Cairan kemaluanku muncrat dengan derasnya dan kurasakan tubuhku seperti lumpuh. Namun Pak Usep belum menyudahi perbuatannya.

Sekarang dia memiringkan tubuhku dan mengangkat kaki kiriku, lalu dia meneruskan genjotannya pada tubuhku. Aku sudah setengah sadar ketika tiba-tiba sebatang penis sudah berada di depan wajahku. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat Pak Riziek berdiri di sampingku dengan penisnya masih berdiri kokoh, tidak jauh dari situ nampak tubuh telanjang Rina yang sudah terkapar lemas. Tanpa membuang waktu lagi diraihnya kepalaku, mulutku penuh sesak oleh penisnya yang berlumuran aneka cairan itu.

Tiba-tiba mereka menurunkan tubuhku dari kursi, kini aku berada di lantai dengan posisi anjing, kimonoku mereka lepas hingga aku bugil total. Pak Riziek mengambil posisi di belakangku lalu dia membuka duburku dan tangan satunya mengarahkan penisnya ke sana. Ooohh.. tidak, dia mau menyodomiku seperti yang dia lakukan pada Rina, masih terbayang olehku betapa brutalnya lelaki ini memperlakukan Rina barusan.

“Jangan Pak, jangan di situ aduuh.. sakit.. ooh..!” rintihku memelas ketika dia memasukkan penisnya.
“Aakkh.. akhh.. oougghh..” aku terus merintih-rintih, mataku terpejam merasakan kepedihan tiada tara sampai airmataku meleleh membasahi pipi.
“Wah.., enak, lebih seret dari Neng Rina..!” kata Pak Riziek disambut gelak tawa mereka.
Dia mulai menggenjot tubuhku sementara di depanku Pak Usep memaksaku mengkaraoke penisnya.

“Udah jangan nangis, lu sebenernya keenakan kan..! Ayo emut nih kontol..!” perintahnya sambil menjambak rambutku.
Aku benar-benar merasa terhina saat itu namun menikmatinya, perlakuan kasar ini mendatangkan kenikmatan tersendiri. Selain menyodomiku, Pak Riziek juga sesekali menampar pantatku hingga terasa panas dan sakit. Di tempat lain Pak Usep terus menahan kepalaku yang sedang mengulum penisnya sambil memaju-mundurkan pantatnya seolah sedang menyetubuhiku, wajahku makin terbenam pada bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

Tidak lama kemudian kurasakan penis Pak Usep dalam mulutku semakin berdenyut dan akhirnya tumpahlah spermanya di mulutku. Ehheek.. hhkk.. aku tersedak tapi kepalaku ditahan olehnya sehingga terpaksa cairan itu kutelan, sebagian meleleh keluar membasahi bibirku. Pada saat hampir bersamaan pula aku klimaks yang kesekian kalinya, tubuhku mengejang, aku ingin menjerit namun mulutku tersumbat penis Pak Usep sehingga hanya terdengar suara erangan tertahan dari mulutku yang berlepotan sperma dan airmataku makin membanjir.

Beberapa menit kemudian akhirnya Pak Riziek ejakulasi, aku merasakan cairan hangat dan kental menyirami duburku. Aku merasa sangat lelah, napasku terengah-engah dan menangis terisak-isak apalagi saat kudengar mereka tertawa-tawa dan mengucapkan kata-kata yang merendahkan kami, makin panas saja telinga dan hatiku.

Pak Riziek masuk ke dalam dan tidak lama kemudian ia kembali dengan 2 gelas air, disodorkannya gelas itu padaku dan Rina yang dibangunkannya dengan menyiram air kolam. Langit sudah gelap ketika itu, Pak Riziek keluar membeli makan malam untuk kami. Sambil menunggu Pak Usep beristirahat dengan berendam di kolam dangkal bersamaku dan Rina, tingkahnya seperti raja minyak saja, dia meminta Rina yang payudaranya montok melakukan pijat ala Thai, sedangkan aku digerayangi dan diciuminya seperti mainan. Sungguh benci aku padanya, tapi terpaksa harus bersikap manis agar dapat lekas bebas darinya.

Malam harinya sebelum tidur kami main berempat sekaligus di ranjangku. Pak Usep berbaring, aku naik ke atas wajahnya berhadap-hadapan dengan Rina yang naik ke atas penisnya. Kami berdua sibuk mengkaraoke penis Pak Riziek yang mengacung di antara kami. Secara bergantian kami menjilati dan mengulum penis itu hingga memuncratkan maninya membasahi wajah kami. Sementara itu kurasakan vaginaku mulai banjir lagi akibat permainan lidah Pak Usep.

Malam itu, setelah digarap habis-habisan akhirnya kami berempat tertidur kelelahan di kamar itu. Pagi harinya kembali aku digarap di bathtub oleh Pak Riziek ketika mandi bersama, aku dibuatnya klimaks dua kali dan dia semprotkan maninya dalam vaginaku.

Setelah seharian menjadi budak seks, mereka akhirnya mengembalikan klise itu pada kami. Kami memeriksanya dengan seksama agar tidak mendapat kesulitan lagi di kemudian hari. Segera setelah itu kusuruh mereka hengkang dari villa-ku dan kami pun pulang ke Jakarta. Hari berikutnya Pak Riziek menghubungi ayahku untuk pamit mengundurkan diri dan sejak itu pula atas bujukanku dengan macam-macam alasan, keluarga kami tidak pernah lagi menyewa orang untuk menjaga villa.

Aku masih dendam pada mereka yang telah memperdayaiku, namun terkadang aku merasa rindu mengulanginya, rindu tangan-tangan kasar itu menggerayangi tubuhku. Hingga detik ini belum seorang pun mengetahui peristiwa itu temasuk keluarga dan kekasih kami. Pengalaman pahit ini hanya kuceritakan pada pembaca 17tahun.com sebagai curhat dan juga peringatan agar tidak ceroboh menyimpan rahasia pribadi supaya tidak mendapat kesulitan seperti kami.

TAMAT



© Karya Pengarang Lain

Di Balik KKN




Di Balik KKN
Pendahuluan





Lisa

Aku Andi 17 tahun kelas 2 SMU. Keluargaku adalah orang
Cina miskin dari satu kota kecil di Jawa. Aku dan ciciku
(kakak perempuan) tinggal dengan pamanku, sepupu papa,
pengusaha sukses di kotanya. Kakakku setahun lebih tua
dariku, namanya Lisa. Kami ikut papa sejak kecil setelah
orangtuaku bercerai. Kami jarang kontak dia lagi setelah
dia kawin lagi dengan gadis pribumi 20 tahun dan pindah
ke kota lain. Karena kasihan dan demi pendidikan yang
lebih baik di kota besar, setahun lalu pamanku
menawarkan untuk pindah ke tempatnya. Lagipula, putri
tunggalnya Hani sejak SMP kelas 1 disekolahkan di
Singapura sehingga dia hanya tinggal dengan tanteku.
Aku orang yang paling pesimis sedunia dan sejak kecil
selalu jadi bahan tertawaan. Sekarang pun, aku sering
disuruh-suruh dan dimaki-maki oleh pamanku dan istrinya,
juga kakakku. Sementara kakakku dimanja oleh mereka,
sering dibelikan baju bagus dan barang mahal lainnya
terutama bibiku. Aku menyadari aku memang pantas
disuruh-suruh dan direndahkan orang. Jadinya aku
malah”menikmati” saja ketika dimarahi dan disuruh-suruh.
Bahkan urusan seks dan masturbasi pun aku tidak pernah
mambayangkan diriku sendiri namun sedang menonton orang
lain terutama kakakku yang berhubungan seks atau sekedar
dipegang-pegang oleh cowok lain. Utamanya cowoknya
adalah pribumi. Karena sering aku melihat ia diliatin
dan digodain oleh cowok-cowok pribumi. Setiap pulang
sekolah selalu melewati STM yang cowok semua dan
pribumi. Banyak yang lagi nongkrong dan selalu
mengeluarkan celoteh-celoteh usil. Mungkin mereka jarang
liat cewek. Ditambah kakakku memang cakep, kulitnya
putih, tinggi sekitar 160-an, badannya langsing karena
memang sering olahraga. Rambutnya yang dicat agak pirang
membuat makin merangsang saja. Ditambah, baju seragam
putih yang dipakai dari kain yang agak tipis sehingga
kelihatan BH-nya (apalagi kalau lagi pakai bra warna
gelap jadi makin mencolok) dan kelihatan besarnya
tonjolan di balik baju tipisnya.


Iseng kulihat bra-nya di lemari baju, ukurannya 34c.
Tidak heranlah setiap kali banyak omongan-omongan yang
usil dan jorok. Aku sebenarnya ingin marah tapi karena
takut jadinya diam saja. Kakakku sendiri diam saja tak
pernah menanggapi. Untungnya mereka tidak pernah berbuat
kurang ajar kecuali komentar-komentar joroknya saja.
Bahkan ada salah satu yang menirukan desahan cewek
ketika disetubuhi. Membuatku membayangkan kalau kakakku
benar-benar disetubuhi oleh dia dan mengeluarkan suara
seperti itu! Di angkot juga selalu ada cowok iseng yang
memperhatikan dia, mulai dari mukanya, lehernya yang
putih akhirnya menatap dadanya atau ke paha. Walau takut
dan kesal, anehnya tiap kali masturbasi selalu
membayangkan kakakku menikmati disetubuhi dan diperawani
oleh mereka.

Pengalamanku tidak cuma di sekolah saja. Ketika jalan ke
mall atau ke manapun malah lebih parah karena
kesukaannya memakai baju yang terbuka atau ketat.
Kausnya yang ketat membuat payudaranya tampak indah dan
makin menonjol. Apalagi kalau belahan dadanya agak
rendah membuat payudaranya yang putih sedikit kelihatan.
Ketika berenang atau fitness malah lebih parah lagi.
Sebenarnya aku tidak suka dengan keadaan ini tapi
juga”suka”. Diam-diam, anuku jadi menegang kalau ada
tatapan atau komentar kurang ajar. Aku takut, tegang,
dan juga terangsang.

Voyeurism

Suatu saat aku tergoda untuk melihatnya telanjang karena
ada kesempatan untuk itu. Antara kamarku dan kamarnya
ada taman kecil yang sudah tak dipakai. Pintunya hanya
dari kamarku, yang di kamar dia sudah dimatikan. Dengan
tangga aku bisa melihat ke dalam dari jendela atas
kamarnya dan kamar mandinya. Dalam beberapa kesempatan
aku sempat melihatnya telanjang bulat.

Kecantikannya ditambah dengan kemolekan tubuhnya memang
betul-betul luar biasa indah! Payudaranya padat berisi,
ukurannya cukup besar, kencang, dan berdiri tegak. Tidak
turun seperti pada film-film bokep. Kedua putingnya
berwarna kemerahan berdiri dengan tegaknya dan agak
panjang menonjol. Rambut kemaluan di sekitar vaginanya
tidak terlalu lebat namun sangat indah. Kulitnya yang
putih mulus membuatnya makin menarik. Putingnya yang
kemerahan dan rambut kemaluannya yang hitam amat kontras
dengan kulitnya yang putih. Beberapa kali aku melihatnya
telanjang atau setengah telanjang baik ketika mandi
maupun di dalam kamar.


Setelah aku melihatnya telanjang bulat, kebiasaanku
bermasturbasi jadi makin menjadi-jadi. Karena aku makin
jelas membayangkan bagian-bagian tubuh tertentu dari
kakakku digerayangi dan dinikmati oleh para cowok
tersebut. Komentar-komentar usil yang pernah kudengar
ditambah dengan pengetahuanku tentang tubuhnya membuatku
makin nikmat bermasturbasi. Bayangan cowok yang hitam
menindihi tubuh cewek yang putih mulus dan memainkannya.
Seorang cewek yang muda, cakep, tampangnya polos dan
innocent, putih, sexy, high class, dadanya berisi dan
masih perawan namun menyerahkan keperawanannya dengan
sukarela dan menikmati apapun yang dilakukan oleh cowok
yang statusnya lebih rendah darinya. Membuatku
benar-benar nikmat dalam bermasturbasi. Kadang aku
menyesal setelah melakukannya tapi selalu mengulangi
lagi. Mungkin aku sudah GILA!

Lalu apakah kakakku memang masih perawan? Menurutku sih
dia masih perawan. Dia tidak pernah pergi dengan cowok
mana pun. Paman dan tanteku melarang kakakku sembarangan
pergi dengan teman-temannya terutama cowok. Kemana-mana
selalu aku disuruh menemaninya. Namun anehnya beberapa
kali mereka mengajak kakakku dan juga aku ke pub atau
night club dan mereka pula yang mengenalkan kami ke
minuman keras. Menurut mereka, daripada pergi dengan
teman mending pergi dengan orang tua jadi ada yang
menjaga. Pamanku dan istrinya memang doyan minuman keras
dan sering ke pub-pub. Disana kami juga dikenalkan
kepada beberapa rekan-rekan bisnis pamanku.

Pak Joko

Orang yang paling penting diantara semuanya adalah Pak
Joko karena dia pejabat pemerintah yang memegang peran
kunci dalam hal perijinan bisnis pamanku. Dia adalah
orang Jawa, umurnya 40-an. Makanya pamanku dan bibiku
sangat hormat kepadanya. Sering mereka menjamu Pak Joko
dan mengundang Pak Joko datang ke rumahnya. Aku tidak
begitu suka dengannya dan kelihatannya juga dia tidak
terlalu suka denganku dan menganggap kehadiranku.

Tapi dia baik sekali dengan kakakku, malah sepertinya
dia punya mau terhadap kakakku. Kakakku memang pandai
berdandan dan berpakaian untuk membuat dirinya menarik
perhatian cowok serta pintar mengambil hati orang.
Apalagi kalau gaun yang dipakainya dengan belahan dada
agak rendah membuatnya nampak sexy. Sementara kakakku
malah enjoy berbicara dengan Pak Joko bahkan sampai
sering bercandaan. Membuatku jadi makin rendah diri.
Sekarang dikala masturbasi aku jadi sering membayangkan
Pak Joko, bandot tua hitam jelek menikmati tubuh mulus
kakakku. Apalagi setelah beberapa kali ia datang
malam-malam, kakakku mengenakan daster tipis agak
menerawang. Mata Pak Joko bersinar-sinar melihat tubuh
sexy yang dibalut kain tipis itu.

“The show must go on”

Suatu malam mereka ke pub tapi aku disuruh menunggu
pengiriman barang di rumah. Sekitar jam 9.30 pamanku
telpon bilang aku boleh tidur dulu karena mereka pulang
agak malam. Saat tiba kakakku agak mabuk. Sebelumnya
lebih parah lagi ngoceh-ngoceh tak karuan, kata bibiku.
Bibiku membawanya masuk ke dalam kamar. Sementara
pamanku marah besar kepadaku, menurutnya barangnya tidak
lengkap. Oleh bibiku aku disuruh masuk ke kamarku.
Dengan sangat ketakutan aku masuk ke kamar dan kukunci
pintu kamar.

Tak lama kemudian kudengar bibiku masuk ke kamar
kakakku. Karena penasaran aku mengintip dari jendela.
Kakakku baru selesai mandi sedang berbaring di tempat
tidur dengan memakai kaos atasan saja yang panjangnya
sampai ke pahanya. Kakakku sudah tidak mabuk hanya agak
lemas saja. Kemudian bibiku memberikan segelas air dan
satu tablet kecil. Setelah kakakku tidur ia keluar.

Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Ternyata
adalah Pak Joko! Ia kelihatan habis mandi, memakai
celana pendek dan baju kaos. Kok tadi aku tak
melihatnya? Dengan tegang kuperhatikan apa yang
dilakukannya. Ia menuju ke tempat tidur kakakku. Kakakku
tidur telentang, kakinya agak terbuka terlihat pahanya
yang mulus. Dadanya turun naik. Pak Joko duduk di
pinggir ranjang. Tangannya mengulur memegang pipi
kakakku. Tiba-tiba kakakku terbangun. Sesaat Pak Joko
kelihatan terkejut, tapi sambil menarik kembali
tangannya ia lalu berkata,

“Kamu sudah baikan Lisa? Saya ingin melihat keadaan
kamu.”
“Sudah mendingan Oom, hanya masih lemas saja.”
“Sini deh Oom pijitin supaya lekas sembuh.”
“Nggak usah deh Oom. Masa kok oom mijat saya,” kata
kakakku sambil ia duduk di tengah ranjang.
“Nggak apa-apa kok. Lagian Oom tidak keberatan kok,”
kata Pak Joko sambil tangannya langsung meraih tengkuk
kakakku dan mulai memijat-mijat dan meraba-rabanya.
“Aduuh geli Oom. Jangan ah,” kakakku meronta kecil dan
memendekkan tengkuknya.
“Ssst. Jangan berteriak gitu, nanti kasihan pada bangun
semua. Tenang saja kamu,” kata Pak Joko sambil tangan
yang satunya memegang lengan kakakku.
“Nah gitu, kamu diam saja. Nikmati saja,” kata Pak Joko
sambil kedua tangannya meraba-raba tengkuk dan lengan
kakakku. Membuat kakakku terlena dan memejamkan matanya.
Berdekatan dengan Lisa begitu dekat, langsung membuat
Pak Joko terangsang. Aroma tubuh Lisa yang harum
membuatnya mabuk kepayang. Kedua, dalam jarak begitu
dekat, baju tidur yang agak transparan membuatnya mampu
melihat dengan jelas kemulusan dan bentuk tubuh yang
begitu menggairahkan. Di balik dasternya, branya
berwarna biru tua nampak jelas membuatnya makin
menggairahkan. Juga pahanya yang putih dalam jarak
begitu dekat. Tiba-tiba Pak Joko langsung mencium bibir
Lisa yang sedang memejamkan mata.

“Ooh kamu cantik sekali Lisa, mmhh”

Bibir Pak Joko langsung membekap bibir Lisa dan
melumatnya. Sesaat aku berdetak, lalu apa yang akan
dilakukan kakakku pikirku. Ternyata Lisa tidak
memberontak, malah ia menikmati ciuman Pak Joko. Kedua
tangannya kemudian meraih memeluk Pak Joko.

“Mmmh ahh.”

Bibir ketemu bibir, lidah ketemu lidah. Dengan penuh
nafsu Pak Joko sambil tetap menciumi Lisa, tangannya
mulai meraba-raba tubuh Lisa. Punggung.. Lengan.. Lalu
satu tangannya meraba-raba paha. Tangan itu masuk di
bawah baju, meraba-raba, bergerak naik ke atas. Lisa
mengerang perlahan. Pak Joko membaringkan Lisa, setengah
menindih sambil terus menciumi seluruh muka.. Leher..
Dengan penuh nafsu. Tangan kanannya merayap naik di
balik daster Lisa. Meraba-raba daerah paha lalu naik ke
sekitar perut.

Pak Joko mengangkat kepalanya. Menatap dan mengagumi
tubuh Lisa yang sebentar lagi akan dinikmatinya. Tangan
kirinya membelai-belai rambut, pipi, leher, dan turun ke
dada! Bersamaan dengan tangan kirinya menyentuh dadanya,
tangan kanan bergerilya di balik daster ke aarah
payudara kanan Lisa. Sambil kedua tangannya meraba-raba
payudara Lisa, daster Lisa tersingkap terlihatlah
pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya. Kaki kanan
Pak Joko bergerak naik meraba-raba paha Lisa dan daerah
CD nya. Lisa mengerang-erang merasa kegelian karena bulu
kaki Pak Joko menyentuh bagian sensitifnya.
Sesaat kemudian, Pak Joko melepas daster Lisa dan
membuka baju dan celananya sendiri, sambil menikmati
indahnya tubuh Lisa yang terduduk hanya memakai bra dan
CD saja. Tapi ia belum puas dengan itu karena sesaat
kemudian ia segera melepas branya dengan membuka
kaitannya di belakang, lalu direngkuhnya bra itu. Nampak
sepasang payudaranya yang indah berayun dengan bebasnya
menantang untuk dinikmati. Kedua putingnya agak panjang
kemerahan begitu sensitif akan sentuhan. Sambil
pandangan terus tertuju pada payudara Lisa, Pak Joko
melepas CDnya sendiri dan kemudian CD Lisa. 



Kini seluruh tubuh Lisa tak tertutup selembar benang
pun. Tampaklah bulu kemaluan Lisa yang nampak kontras
dengan kulitnya yang putih mulus. Sementara penis Pak
Joko yang hitam dan besar itu terlihat sudah menegang
dengan gagahnya. Segera kedua tangannya bereaksi meraih
kedua payudaranya. Mengelus-elus, meraba-raba, dan
meremas-remasnya dengan lembut. Lisa mendesah-desah
kenikmatan. Pak Joko jadi makin nafsu, ia langsung
mencium bibir Lisa sambil kedua tangannya masih terus
meraba-raba payudaranya. Kedua tangannya beraksi di
sekitar kedua puncak gunung Lisa. Memencet-mencet dan
menggerak-gerakkannya akibatnya kedua payudara
bergerak-gerak akibat perbuatannya. Kedua putingnya
menjadi mengeras tanda bahwa Lisa juga ikut terangsang.

“Oohh ahh ahh ahh”

Pak Joko membaringkan Lisa dengan kedua tangan mendorong
dadanya. Lalu ia membuka kedua kaki Lisa, menatap bagian
yang paling rahasia itu. Jari-jarinya dimainkan di
sekitar vaginanya, membuat Lisa mendesah-desah makin
terangsang. Pak Joko demikian ahli memainkan jarinya
sampai vaginanya menjadi basah. Setelah puas dengan apa
yang diperbuatnya, dengan setengah menindih, ia menciumi
leher Lisa yang sebagian rambutnya yang sebahu menempel
disana. Dengan ganas, Pak Joko menciumi dan mengecupi
leher Lisa kiri kanan. Tangannya meraba-raba ke dada dan
daerah vagina.

Lisa nampak mengerang-erang kenikmatan. Lalu ciuman Pak
Joko mulai beralih turun ke bawah, sampai menciumi kedua
payudaranya. Mula-mula ia mengecupi bagian pangkalnya
yang putih itu, lalu perlahan naik makin ke atas. Sampai
ia mengemut dan menjilati kedua puting Lisa yang
berwarna kemerahan segar itu, ujung lidahnya
menggerak-gerakkan kedua putingnya bergantian.
Digigit-gigitnya dengan lembut putingnya yang sangat
sensitif itu. Lisa makin mendesah-desah. Ia nampak
kegelian kenikmatan. Selama ini Lisa banyak pasifnya
namun ia juga tidak melawan bahkan menikmati apa yang
dilakukan Pak Joko terhadapnya.

Kemudian ia mendekatkan penisnya ke dada Lisa dan
menjepit penisnya yang ujungnya disunat itu diantara
kedua payudaranya sampai penisnya terbenam di antara
kedua payudara Lisa. Penisnya yang hitam nampak kontras
dengan kedua payudara yang menjepitnya itu. Kali ini
giliran Pak Joko yang merasakan kenikmatan. Lalu kepala
penisnya disentuhkan dan digerak-gerakkan ke puting
Lisa. Nampak keduanya terangsang dengan aksi itu. Lalu
Pak Joko meraih tangan Lisa dan mendekatkannya ke
penisnya. Ternyata Lisa cukup cekatan juga. Tangannya
segera meraba-raba, dan mengocok-ngocok penisnya yang
membuat Pak Joko bereaksi dengan hebat.

Tak lama kemudian, Pak Joko melepaskan tangan Lisa, dan
membuka kedua kaki Lisa lebar-lebar sehingga nampaklah
vaginanya dengan jelas. Rupanya ia sudah tidak sabar
lagi mendapatkan hadiah utamanya yaitu menikmati
keperawanan Lisa. Ia mendekatkan penisnya ke vagina yang
sudah kuyup dan dalam posisi siap itu. Ia dalam posisi
duduk, sementara Lisa dalam posisi pasrah telentang. Pak
Joko segera memajukan badannya memasukkan penisnya ke
dalam vagina Lisa.

“Oooh.. Ahh”, teriak Lisa, ketika kepala penis itu
akhirnya menembus vaginanya sebelum akhirnya semuanya
masuk ke dalam. Segera kemudian Pak Joko memaju
mundurkan tubuhnya, penisnya yang hitam masuk keluar ke
vagina Lisa.
“Oooh oohh ahh ahh ahh”

Akhirnya malam itu Pak Joko berhasil merenggut
keperawanan Lisa. Nampak darah keperawanannya membasahi
seprei. Sambil memegang kedua tangan Lisa, dengan
semakin cepat Pak Joko memainkan penisnya di dalam
vaginanya. Akibatnya, tubuh Lisa bergetar hebat
sampai-sampai kedua payudara Lisa bergerak-gerak
berputar putar. Pak Joko nampak puas sekali bisa
melakukan itu. Sementara Lisa merasakan kenikmatan luar
biasa sambil mendesah-desah.

Lalu Pak Joko mengeluarkan penisnya. Ia berganti posisi.
Ia menyuruh Lisa menungging, lalu dari belakang kembali
ia menyodok vagina Lisa dalam posisi doggy style, sambil
kedua tangannya menepuk-nepuk, meremas-remas payudara
dan memainkan kedua putingnya. Setelah menikmati
beberapa saat, kembali ia menidurkan Lisa. Lalu sambil
tubuhnya menindih Lisa, ia kembali menyetubuhi Lisa yang
beberapa saat lalu masih perawan itu. Nampak pemandangan
yang kontras, badan Pak Joko yang hitam seperti aspal
menindih Lisa yang putih mulus bagaikan kapas.

Kembali ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Lisa.
Sambil menciumi seluruh muka dan leher Lisa, ia kembali
mengocok penisnya. Sampai akhirnya tiba-tiba tubuh Lisa
menggelinjang kenikmatan dan kedua tangannya
mencengkeram rambut Pak Joko, sampai akhirnya Lisa
berteriak-teriak dengan suara tinggi (inikah yang tanda
orgasme pada wanita?). Beberapa saat kemudian Pak Joko
meneruskan ciumannya ke payudara Lisa. Bergantian ia
menciumi kedua payudara dan menyedot-nyedot kedua
putingnya, sambil terus penisnya dimainkan di dalam
vagina Lisa. Dan tak lama kemudian giliran Pak Joko yang
mengalami ejakulasi. Setelah ejakulasi, Pak Joko masih
terus mengocok penisnya sampai beberapa saat, sebelum
akhirnya ia menghentikan aksinya. Lalu ia terengah-engah
berbaring telentang di samping Lisa.

Sampai disini aku tersadar dan menyudahi “pengintipan”ku
karena ternyata aku sendiri juga mengalami ejakulasi
entah karena apa. Apakah tegang, atau marah, atau tak
berdaya, ataukah heran, atau semuanya campur jadi satu?
Setelah itu aku jadi tidak berminat lagi melihat apa
yang terjadi seterusnya. Malah kini aku berpikir keras.
Apa yang terjadi pada diriku? Apa yang telah kulakukan?
Apa yang harus kulakukan? Sudah benar-benar gilakah aku?
Haruskah aku senang? Atau sedih? Atau marah? Atau malu?
Atau semuanya? Kenapa aku tidak bisa berpikir normal?
Ataukah semua orang juga tidak normal? Lalu kenapa kok
semua orang seperti mendukungku bersikap tidak normal?
Juga kakakku sendiri? Kejadian ini membuatku shock dan
linglung beberapa saat..

Iblis betina itu..

Keesokan harinya aku menguping pembicaraan antara
tanteku dan Pak Joko.

“Wah, Pak Joko pagi ini segar sekali. Bagaimana kemarin,
seru dong?”
“Wah, hebat. Dia benar-benar mantap deh. Obat ibu
benar-benar manjur. Dia sangat bergairah sekali semalam.
Semalam kita maen dua ronde. Pertama dia masih canggung
maklumlah masih perawan. Tapi kedua sudah mulai ‘in’,
apalagi saya ajari dia cara-cara baru.”
“Syukurlah. Kemarin kita sempat panik waktu dia mabuk.
Yah, yang penting tujuan akhir terlaksana khan. Yang
penting Bapak puas.”
“Heh heh heh, wah saya puas sekali. Sebenarnya dari
sejak ketemu, saya sudah suka karena dia sesuai dengan
kesukaan saya. Orangnya cantik, putih, sexy, dan yang
paling saya suka face-nya itu yang innocent dan juga
masih perawan.”
“Jadi proyek pasti goal ya Pak? Bapak khan mintanya amoy
anak sekolahan yang cantik dan masih perawan. Susah
dapatnya yang seperti dia lho pak, tapi kita bisa
sediain buat Bapak. Dan yang lebih penting, kalau Bapak
suka, dia akan selalu siap melayani Bapak karena dia
menurut kepada kami. Juga, nanti setelah pengumuman
pemenang, bagian Bapak akan kita berikan sesuai
perjanjian”
“Oh, itu beres Bu. Masa saya lupa kebaikan Bapak dan
Ibu, masa sih saya orang yang tidak tahu budi.. Dst, dst
Bangsaat!! Iblis betina itu! Ternyata sejak awal adalah
ide bibiku untuk mengajak kakakku dan aku (hanya sebagai
kamuflase) tinggal bersama mereka dan menyekolahkan kami
supaya kami tergantung kepada mereka. Dari awal memang
dia berencana untuk menjual kakakku kepada Pak Joko.
Karena Pak Joko sangat gila wanita sementara kakakku
masih muda dan cantik serta dari keluarga tidak mampu;
sementara kami tidak dekat dengan famili yang lain.
Karena itu dari awal mereka mengontrol pergaulan
kakakku.

Dia tidak cuma bermaksud menjual keperawanan kakakku
saja, tapi lebih jauh lagi supaya menjadi gundik Pak
Joko. Pak Joko kelihatan tergila-gila kepadanya dan
dengan tahu ia masih keponakan sendiri, Pak Joko lebih
merasa tidak enak untuk berkata tidak kepada mereka. Ini
sesuai dengan kepentingan jangka panjang mereka. Di sisi
lain, kakakku mudah dikuasai karena keponakan sendiri
dan bergantung mereka. Untuk itu kakakku “dimanjakan”
dengan dibelikan barang-barang mahal, supaya terlena dan
terbiasa hidup mewah sehingga tergantung kepada mereka.
Putrinya sendiri, Hani, disekolahkan di luar negeri
memang sengaja dijauhkan dari hal-hal busuk seperti ini.
Pamanku, walaupun masih ada hubungan darah, namun lebih
cinta uang dibandingkan saudara.

Malam itu mereka berencana membawa kakakku ke hotel
bintang lima untuk dijebak dengan Pak Joko. Pengiriman
barang adalah rekayasa agar ada alasan supaya aku tidak
ikut. Namun karena kakakku mabuk teler (mungkin ini
pengaruh obat perangsang yang diberikan dalam minuman?),
jadinya mereka takut menimbulkan kecurigaan pihak hotel.
Akhirnya diputuskan untuk dilakukan di rumah, karena Pak
Joko sendiri sudah ngebet. Pamanku memarahiku bukan
karena barangnya kurang namun ia takut kalau-kalau aku
bisa menggagalkan rencananya. Karena takut reaksinya
sudah berkurang, bibiku memberikan obat perangsang lagi
kepada kakakku.

Setelah semuanya terjadi, kakakku mau tidak mau harus
menuruti skenario mereka. Ia tidak bisa menolak selama
masih tergantung. Kalau kabur dari rumah, mau lari
kemana dia? Bisa jadi nasibnya nanti malah lebih buruk
lagi. Jelek-jelek sekarang dia keponakan orang kaya yang
hidup dalam kemewahan. Yang tahu sisi kelamnya hanya
orang sendiri saja yang semuanya berkepentingan untuk
tidak menyebarkan keluar. Benar-benar terkutuk
semuanya!! Memanfaatkan orang demi keuntungan sendiri.

Dan aku, si orang tanpa guna, adalah pelengkap
penderita. Walaupun aku juga ada kesalahan namun aku
tidak terima kakakku diperalat dan dipermainkan orang
begitu. Satu kelebihanku, yaitu mereka tidak tahu bahwa
aku adalah saksi mata dari semua peristiwa, kalau aku
tahu semua rencana busuk mereka. Suatu saat nanti aku,
si orang tanpa guna, akan menyaksikan mereka semua
menderita akibat perbuatan busuk mereka ini. Ronny
(pamanku), Tina (tanteku), dan Joko adalah tiga orang
yang akan kuingat seumur hidupku.

Aku akan membalas kalian semua! Aku harus membalas
kalian semua!

Ratu iblis betina..Tiga minggu sesudahnya..

Saat ini aku sedang merenung mencerna apa yang ada di
benak kakakku Lisa setelah ia kehilangan keperawanannya
di tangan bandot tua Pak Joko. Aku merasa bersalah juga
karena aku membayangkan sesuatu yang jelek dan akhirnya
kejadian betulan. Juga, aku tak berusaha mencegah
peristiwa itu terjadi malah aku menonton sampai akhirnya
mendapat kepuasan juga. Tapi, salahkah aku dalam hal
ini?
Ketika itu bukannya aku tidak mau mencegah namun aku
sama sekali TIDAK TERPIKIR untuk melakukannya dan aku
terpana akan apa yang kulihat. Seolah jarum waktu
berhenti berdetak ketika itu dan aku terjebak di dalam
kebekuan waktu. Sampai setelah semuanya terjadi baru aku
menyadarinya.

Namun ada hal aneh pada diri kakakku. Ada yang tidak
sesuai. Setelah peristiwa itu kakakku masih tetap
bersikap manis kepada Pak Joko bahkan beberapa kali ia
tidak menolak meladeni dia lagi. Memang, paman dan
terutama bibiku pasti berusaha keras dan memaksa dia
untuk melayaninya dengan sebaik mungkin. Namun aku bisa
melihat bahwa ia melakukan itu bukan terpaksa melainkan
sungguh-sungguh! Anehnya, walau kakakku mencoba melawan
dan mengeluh pada tanteku, namun di dalam kamar ia
selalu benar-benar melakukan dengan sungguh-sungguh.

Oooh.. Kini aku mengerti semuanya. Kakakku bukanlah
korban yang terjerumus tetapi ia juga AKTRIS utama dari
semua ini. Sesuatu yang menurutku merupakan aib, baginya
adalah sebuah berkah. Dari sejak awal memang dia
menginginkan semua ini! Demi keuntungan material bagi
dirinya, ia rela menyerahkan tubuhnya kepada seorang
pembeli yang tepat. Namun dia tidak perlu terburu-buru
ataupun menunjukkan inisiatif kesana. Karena dia tahu
hal itu pasti akan terjadi. Cepat atau lambat pamannya
akan mengorbankan dia kepada pejabat penting demi
kepentingan bisnis. Bagaikan pemain catur ulung, ia
sudah tahu beberapa langkah ke depan yang akan dilakukan
oleh lawannya.

Ketika itu bukannya obat perangsangnya” terlalu kuat”,
tapi tanpa itu pun sebenarnya sudah jalan. Ia membiarkan
dirinya seolah masuk dalam jebakan. Dari sejak kecil
memang ia matre dan sangat membenci kehidupan melarat di
kota kecil. Sementara itu ia mengelabui bibiku dengan
menunjukkan bahwa sepertinya ia tak tahan. Ia tidak mau
mereka melihatnya” terlalu bersemangat” yang akibatnya
membuat mereka curiga. Ia membiarkan bibiku mengira ia
melakukan ini semua karena terpaksa dan sesuai dengan
skenario sang bibi. Namun aku yakin, pada saat yang
tepat nanti ia akan memberontak dan jadi pemenang dari
permainan ini semua. Bibi dan pamanku terlalu
underestimate kakakku. Kalau bibiku adalah iblis betina,
kakakku adalah ratu iblis betina-dengan penampilan
bidadari.

Namun apa pun itu, semuanya tak bisa lepas dari
observasi tersembunyiku.

Si Manusia Tanpa Guna

Setelah aku mengetahui semuanya, aku jadi muak dengan
kakakku. Kini aku tidak mempunyai siapa-siapa. Semua
orang punya maksud dan tujuan sendiri dan saling
memanfaatkan yang lain. Ketika peristiwa itu, sepertinya
memang lebih baik kubiarkan saja. Kalau kucegah malah
akan merusak skenario ketiga belah pihak, paman-bibiku,
Pak Joko, dan kakakku sendiri. Lalu kini setelah
mengetahui semuanya, untuk apa aku membela kakakku atau
membalas mereka?
Bukankah ini sejalan dengan kemauan mereka semua?
Aku jadi makin terpuruk. Memang aku ditakdirkan menjadi
si manusia tanpa guna. Tidak ada yang bisa aku lakukan
kecuali menerima nasibku sebagai seorang pesuruh dan
mengikuti apa yang mereka mau. Dengan begitu mungkin aku
menjadi sedikit ada guna. Sigh..

Apabila teringat janjiku untuk membalas perbuatan mereka
seolah-olah mereka semua sedang mentertawakan
kebodohanku. Jangankan untuk membalas, menolong diriku
saja tidak sanggup. Kubayangkan kakakku sedang
memamerkan mobil barunya (yang baru diberikan pamanku
sebagai” hadiah lulus SMU”). Pamanku duduk di gelimangan
uang emas dan tanteku berkalung mutiara berlian sedang
tersenyum sinis kepadaku. Pak Joko sedang memeluk
kakakku sambil meraba-raba dadanya yang telanjang
tertawa terkekeh melihatku kebingungan.

Seolah ia berkata,” Lihat betapa kakakmu menikmatinya.
Lalu apa yang mau kamu lakukan?”

Kalau sudah begini, jangan salahkan kalau akhirnya aku
balik lagi memainkan peranku sendiri yaitu ke hobi
awalku mengintip kakakku yang dengan semangatnya
melayani semua kemauan Pak Joko sambil masturbasi.

Sepuluh bulan kemudian..

Bisa ditebak bahwa pemenang tender proyek itu dan juga
berikut-berikutnya adalah perusahaan pamanku. Tak lama
sesudah itu, pamanku membeli rumah sebelah dan
menyambungnya. Mereka berdua tinggal di rumah yang baru
sementara aku dan kakakku tetap tinggal di tempat yang
lama, memberikan keleluasaan bagi Pak Joko untuk
memuaskan hasratnya. Boleh dikata kini kakakku sudah
resmi” diangkat” jadi peliharaan Pak Joko. Makin sering
saja Pak Joko datang ke rumah dan kakakku sekarang
memanggilnya” Mas” bahkan aku juga harus memanggil” Mas”
kepadanya sebagai” suami” dari kakakku. Yah apa boleh
buat, karena aku juga dapat makan dari dia.

Kini hubungan mereka jadi makin liar dan menggairahkan.
Terutama kakakku yang kini makin pandai memuaskan”
suaminya” di tempat tidur. Sekarang mereka tidak
malu-malu lagi menunjukkan keintiman mereka di depanku.
Kini kakakku suka tidak memakai bra apabila ada Mas
Joko. Mereka bebas berciuman di depanku. Kadang Mas Joko
suka meraba-raba payudara kakakku atau tangannya masuk
ke dalam roknya atau yang lain di depanku. Sepertinya ia
ingin memamerkan kepadaku bahwa kakakku adalah
mainannya. Juga sekarang mereka dengan enaknya
menyuruhku menyiapkan makanan buat mereka sehabis mereka
bercinta.

Ketika aku disuruh masuk ke kamarnya, mereka berdua
sedang berpelukan telanjang di dalam selimut. Mas Joko
dengan enaknya menyuruhku mencuci bajunya atau menyemir
sepatunya. Apabila ada yang tidak beres sedikit, ia
memaki-makiku. Kini aku benar-benar menjadi kacung yang
sebenar-benarnya. Sebagai satu-satunya hiburan, aku
makin sering melakukan masturbasi sambil mengintip
mereka. Apalagi hanya itulah saat dimana aku tidak harus
melayani mereka.

Suatu hari Mas Joko datang ke rumah dan kakakku juga
baru datang. Kakakku memakai baju lengan panjang warna
gelap dan celana panjang. Walaupun memakai baju lengan
panjang warna gelap, tetap saja kelihatan sexy. Dadanya
kelihatan menonjol. Tak lama kemudian mereka berdua
masuk ke kamar. Timbul niatanku untuk mengintip apa yang
mereka lakukan kali ini. Mula-mula mereka ngobrol saja
sambil bercanda. Tak lama kemudian mereka berciuman,
lalu saling membuka baju masing-masing sampai akhirnya
keduanya telanjang bulat. Tubuh kakakku masih tetap
indah saja walaupun telah sering dimainin oleh Mas Joko.
Keduanya makin seru berciuman, lalu Ci Lisa mendorong
tubuh Mas Joko ke ranjangnya. Ci Lisa berada di atas,
mereka berciuman sambil tubuhnya menempel. Dada Ci Lisa
menempel ke dada Mas Joko. Lalu Ci Lisa menciumi leher
Mas Joko dan turun ke bawah ke dadanya, memainkan
lidahnya di putingnya, dan tangannya mengelus-elus
‘jago’ nya Mas Joko sambil menempelkan dadanya di bagian
perut Mas Joko. Sementara Mas Joko membelai belai
punggung Ci Lisa yang putih dan sesekali membelai rambut
sebahunya yang dicat agak kecoklatan itu.

Mas Joko mengerang-erang kenikmatan karena ‘jago’nya
dielus tangan halus Ci Lisa dan merasakan dadanya yang
empuk menempel ke perutnya yang agak buncit. Lalu Ci
Lisa meneruskan kecupan-kecupannya dan jilatannya ke
sekujur tubuh Mas Joko. Mulai dari leher, dada, perut,
bawah perut, paha, tangan, bahkan kesepuluh jari-jarinya
juga diemut satu-satu sementara matanya menatap mata Mas
Joko! Sementara Mas Joko juga tidak tinggal diam, kedua
tangannya membelai-belai tubuh putih mulus Ci Lisa
terutam bagian dada, paha, pantat, dan sekitar
vaginanya. Namun bagian yang sering dijamah adalah dada
dan vaginanya.

Rupanya Mas Joko menggemari bagian dada terutama puting
Ci Lisa. Ia sering menjilati, menyedot-nyedotnya atau
memainkannya dengan jarinya. Lalu sekarang Ci Lisa
beralih ke kaki. Mulai dari paha di dekat penis Mas
Joko, turun ke bawah sampai pergelangan kaki. Rupanya
mereka sedang main mandi kucing. Akhirnya tinggal satu
bagian tubuh itu yang belum dijamah lidah Ci Lisa yang
kini akan dilakukannya! Ci Lisa menjilat seluruh bagian
penis Mas Joko mulai dari pelirnya sampai ke ujung atas.
Diulangi lagi. Sekali lagi, kali ini jilatannya berputar
ke bagian depan penisnya.

Kemudian ditempelkan penisnya ke pipinya, hidung, pipi
satunya lagi sebelum ujung lidahnya menyentuh ujung
penisnya kemudian lidahnya dimainkan di ujung penisnya,
lalu berputar turun ke bawah sampai ke bagian pangkal
kepalanya. Kemudian Ci Lisa melakukan deep throat
seperti di film bokep, menyeruput dan mengemut penis
coklam hitamnya Mas Joko masuk ke dalam mulut Ci Lisa
sampai mentok! Ia melakukan itu beberapa lama sambil
dadanya ditempelkan ke kaki Mas Joko. Kudengar suara
mulut Ci Lisa ketika mengemutnya. Bagian putingnya
menempel di persis di bawah lutut Mas Joko. Kedua tangan
Mas Joko memegang kepala Ci Lisa ikut menggerakkan
kepalanya mengemut penisnya. Ia benar-benar menunjukkan
kemachoannya di atas ranjang. Mas Joko sepertinya
benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa. Tapi hebat
juga dia, walaupun sudah diemut oleh Ci Lisa begitu
masih belum keluar juga.

Beberapa saat kemudian Ci Lisa menghentikan aksinya lalu
giliran Mas Joko yang beraksi. Ci Lisa berbaring
telentang, kedua kakinya dibentang lebar-lebar oleh Mas
Joko sampai aku juga bisa melihat klitorisnya. Mas Joko
menindih tubuh Ci Lisa menciuminya di bagian bibir,
kemudian leher. Lalu tanpa basa basi Mas Joko langsung
memberikan kejutan dengan menyeruput bagian vagina Ci
Lisa. Dari sekitar daerah vagina sampai ke klitorisnya.
Lidahnya memainkan klitorisnya, bahkan masuk ke dalam
liang vaginanya dengan bantuan kedua tangannya.

Tentu saja Ci Lisa mengerang-erang dan mendesah-desah.
Sampai beberapa saat setelah puas, Mas Joko menghentikan
aksinya, namun vagina Ci Lisa menjadi basah kuyup!
Kemudian Mas Joko bergerilya di atas. Tangan kiri
memainkan puting kirinya, mulutnya menikmati puting
kanannya, dan tangan kanannya menjamah vaginanya.
Sementara tangan kanan Ci Lisa kembali mengelus ‘jago’
Mas Joko. Sempat beberapa saat mereka saling memuaskan
begitu. Lalu Mas Joko kembali menyedot-nyedot dan
memainkan lidahnya di bagian vagina Ci Lisa. Tak lama
setelah itu Mas Joko memasukkan penisnya ke vagina Ci
Lisa yang sudah kuyup itu. Tak ayal lagi, hanya beberapa
saat ia memompa, Ci Lisa mengalami orgasmenya yang
pertama.

Setelah beberapa saat menikmati cengkeraman vagina Ci
Lisa, Mas Joko menarik penisnya yang kini jadi basah,
lalu memainkannya di sekitar payudara Ci Lisa,
menjepitnya. Lalu Ci Lisa mendorong Mas Joko sampai
telentang. Penisnya berdiri tegak. Lalu ia
menggerak-gerakkan kedua payudaranya ke penis Mas Joko.
Menyentuhkan putingnya sendiri ke ujung penis Mas Joko
dan terkahir menjepitnya dan menggesek-gesekkan
diantaranya. Lalu Mas Joko giliran mendorong Ci Lisa
sampai telentang. Ia jongkok di wajah Ci Lisa, penisnya
didekatkan ke mulut Ci Lisa, kembali Ci Lisa menjilat
sekujur penisnya dari buah pelirnya sampai ujung
penisnya.

Lalu Mas Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Ci
Lisa, memaju mundurkannya sambil kedua kalinya ditekuk
dan menjepit kepala Ci Lisa. Namun Mas Joko masih belum
keluar juga. Setelah itu, Mas Joko berdiri di atas
ranjang dan Ci Lisa kembali melakukan deep throat dalam
posisi berlutut sementara dadanya ditempelkan di kaki
Mas Joko sambil sesekali lidahnya dijulurkan menjilati
bagian kepala penisnya. Aku bisa mendengar suaranya,
slep, slep, slep, begitu. Kali ini Mas Joko akhirnya
tidak tahan lagi. Ketika ujung penisnya dijilati, ia
mengalami ejakulasi. Pertama kali semprotannya cukup
kuat sampai membasahi muka Ci Lisa. Kemudian Ci Lisa
segera melakukan deep throat lagi sehingga sisa
spermanya masuk ke dalam mulutnya dan ditelannya.
Kemudian ujung penisnya dijilat-jilat sampai benar-benar
kering!

Setelah selesai bertempur, keduanya berbaring
berpelukan. Tak lama kemudian Ci Lisa bangkit dan ke
kamar mandi. Ia membersihkan badannya kemudian sikat
gigi. Ia kembali ke kamar tidur. Mas Joko minta
dipijitin yang segera dituruti oleh CI Lisa. Mas Joko
tidur tengkurap. Kedua tangan Ci Lisa memijiti punggung,
kaki, dan tangan Mas Joko. Kemudian, ia mengubah cara
memijatnya. Karena kini ia tidak menggunakan tangannya
tapi dengan dadanya! Mulanya dadanya memijiti
punggungnya, kakinya.

Lalu Mas Joko berbalik telentang. Ini makin seru saja.
Karena semua bagian tubuhnya dipijit mulai dari kepala
sampai ujung kaki. Yang terakhir tentu saja penisnya
yang kini sudah mulai menegang kembali. Dadanya
digosok-gosokkan ke penisnya sampai akhirnya dijepit
diantara kedua susunya. Ronde itu berakhir dengan Ci
Lisa berada di atas dan mencapai orgasme hampir
bersamaan dengan Mas Joko

Setelah tiduran dan nonton TV, mereka kembali bercinta.
Mula-mula Ci Lisa diatas. Kemudian mereka memainkan
doggy style, gaya konvensional, tak tahu apa namanya (Ci
Lisa berbaring sambil satu kali ditaruh di pundak Mas
Joko, sementara Mas Joko menyetubuhinya), sampai
akhirnya gaya konvensional namun kedua kaki Ci Lisa
menjepit kaki Mas Joko sementara memompanya. Disini CI
Lisa mendapat orgasmenya yang ketiga, sebelum ejakulasi
dari Mas Joko saat penisnya dijepit diantara kedua dada
Ci Lisa. Kemudian mereka mandi berendam bersama. Disana
ujung-ujungnya main dengan berbagai posisi yang berbeda.
Gila! Kalau aku tidak melihat sendiri tentu tak percaya
bahwa kakakku yang masih muda, cantik dan polos mau
menjadi budak seks bandot tua seperti Mas Joko. Semua
ini awalnya dari uang! Namun kini aku ragu, ia melakukan
itu semua apakah cuma demi uang, ataukah seks, atau
benar-benar jatuh cinta?
Aku jadi penasaran.

Rahasia yang Mengejutkan

Malam itu, kakakku memanggilku masuk ke kamarnya. Mereka
berdua sedang telanjang di balik selimut. Aku disuruh
duduk di lantai. Tiba-tiba kakakku bertanya,

“Bagaimana, apakah kamu menikmati pemandangan hari ini?”

“Hah, maksud cici apa?”, tanyaku.
Mas Joko menjawab,” Ha ha ha. Kamu jangan pura-pura
bodoh karena kamu memang bodoh beneran. Barusan kamu ada
dimana dan apa yang kamu lakukan?”
“Saya ada di kamar Mas. Sedang baca buku.”
“Kamu bohong. Kamu jangan berpura-pura. Kita sudah tahu
kok,” kata Mas Joko.
“Iya, tapi kepalamu kelihatan dari atas jendela situ,”
kata kakakku sambil menunjuk ke arah jendela tempat aku
mengintip.

Belum hilang rasa terkejutku, Mas Joko sudah menimpali,
“Kamu benar-benar orang yang gobloknya minta ampun.
Sebenarnya aku sudah tahu beberapa bulan lalu dan
sengaja membiarkan kamu menikmati pemandangan ini.”

“Beberapa bulan yang lalu aku pergoki kamu sedang
mengintip aku mandi atau ganti baju,” kata kakakku,
“Kamu benar-benar kurang ajar. Sebenarnya aku ingin
menghajar kamu. Tapi aku mengadu ke Mas Joko dulu. Pasti
kamu juga pernah mengintip kita berduaan. Benar-benar
bangsat kamu! Tapi karena Mas Joko menyuruhku
membiarkannya, akhirnya aku biarkan.”

“Eh.. Eh.. Tapi.. Tapi kenapa kok Mas membiarkanku tanpa
menegurku. Sebenarnya dulu aku pernah pengin ngaku tapi
nggak jadi, taku Cici makin marah. Sungguh. Tapi lalu
kenapa kok Mas membiarkannya?” tanyaku terbata-bata
karena belum hilang kekagetanku.

“Huahahahaha. Kamu ini memang benar-benar si manusia
tanpa guna. Kamu orang yang benar-benar guoblok, paling
goblok seluruh dunia. Kamu pengin tahu kenapa? OK, aku
kasih tahu alasannya. Karena aku mendapat kepuasan yang
lebih dengan menikmati cici-mu di tempat tidur sementara
kamu adiknya menonton menikmatinya. Tidur dengan cewek
sudah biasa buatku tapi menidurinya sambil ditonton oleh
anggota keluarganya itu adalah kepuasan yang lebih
buatku. Jarang aku mendapat kesempatan seperti ini, tapi
sekarang dengan adanya orang goblok seperti kamu,
jadinya niatku kesampaian. Tidak pernah aku ketemu orang
goblok seperti kamu yang cici-nya digarap cowok bukannya
menghalangi malah menikmati. Hahaha, benar-benar
menggelikan. Itulah sebabnya kenapa akhir-akhir ini
kegiatan seks kami jadi makin menggila, karena adanya
kamu si goblok, bikin aku makin menikmatinya. Ayo
sekarang tidak perlu ngintip segala, kamu boleh nonton
langsung,” kata Mas Joko sambil meraih selimut yang
menutupi mereka berdua. Kakakku agak risi, secara reflek
menutupi tubuhnya.

“Sudah jangan malu-malu. Toh dia sudah sering melihat
kita. Ayo, sekarang tidak perlu ngintip segala. Aku
pengin melihat cowok goblok yang suka melihat cici-nya
digarap cowok lain.”

Demikianlah akhirnya dengan terpaksa aku melihat dengan
mata langsung kakakku disetubuhi oleh dia secara liar.
Aku tidak berani berbuat apa-apa kecuali mengikuti
perintahnya. Tapi kakakku sendiri juga menikmati seks
yang liar malah dia jadi makin liar.

Namun, tidak hanya cuma itu. Karena untuk lebih
memuaskan hatinya, kini aku disuruh menonton kakakku
bercinta dengan cowok-cowok lain, seperti supirnya Mas
Joko, tukang ojek, supir angkot, bahkan beberapa anak
STM yang dulu. Rupanya Mas Joko orang yang kelainan
juga. Ia puas menyaksikan aku hanya menonton saja tak
bisa berbuat apa-apa ketika cici-ku dinikmati oleh
cowok-cowok tersebut. Aku diharuskan berada di dalam
kamar dimana cici-ku asyik bercinta dengan mereka dan
menyaksikannya. Sementara Mas Joko kini mengintip di
balik jendela, rupanya dia ingin menyembunyikan
identitasnya. Sementara aku harus melihat secara
langsung Tapi dengan perjanjian mereka harus pakai
kondom, rupanya Mas Joko masih sayang dengan kakakku.

Khusus untuk anak-anak STM malah mereka bertiga
mengerjain kakakku rame-rame.

“Wah, kesempatan ini khan cewek yang dulu,” kata mereka.
Mula-mula mereka bergiliran menyetubuhi kakakku,
sementara yang lainnya tertawa-tawa dan mengeluarkan
komentar-komentar yang jorok. Ada yang menirukan
desahan-desahan kakakku sambil ketawa. Kadang mereka
memandang ke arahku dan mengejekku. Lalu setelah itu
mereka melakukannya rame-rame, meng-gangbang kakakku.
Pada akhirnya, masing-masing menumpahkan spermanya ke
tubuh kakakku sampai tubuh kakakku menjadi basah. Ada
yangmenyemprotkan ke dadanya, perut, bahkan ke mukanya.
Sampai rambutnya juga kena sperma. Tapi sementara itu,
kakakku sepertinya menikmatinya. Aku tidak tahu apakah
ia melakukan ini karena seks atau uang. Yang pasti, ia
lebih mementingkan itu daripada malunya.

Tekad yang Bulat

Mula-mula diam-diam aku menikmatinya. Bahkan aku bisa
ejakulasi sendiri. Saat kejadian dengan anak STM aku
bahkan ejakulasi beberapa kali. Namun lama-kelamaan aku
jadi muak dengan semua ini. Aku sudah bosan dijadikan
alat terus-menerus. Sampai suatu hari hatiku berontak.
Akhirnya aku memutuskan, apapun yang terjadi, aku harus
keluar dari tempat terkutuk ini. Dan saat yang tepat
adalah setelah aku lulus SMU dan menerima semua
ijazahku. Aku harus tetap sabar menunggunya. Pada
saatnya aku akan lari jauh entah kemana.

Sejak saat itu pula aku memutuskan aku akan mencari uang
sendiri dengan kerja sambilan sebagai biaya hidupku
selama disini dan juga untuk bekalku kelak. Aku tidak
mau menggunakan uang mereka.

Menunggu adalah saat-saat yang paling lama dan paling
menderita buatku. Karena aku sering dijejali hal-hal
mesum seperti itu dan aku sudah muak dengan hal-hal itu.
Sementara mereka makin liar saja. Kadang malah ceweknya
tidak cuma kakakku, malah kadang kakakku beradegan
lesbian dengan cewek itu, sebelum si Joko dipijit
hamburger sebelum menyetubuhi mereka berdua, dan banyak
yang lain lagi. Kini aku sudah tidak bisa terangsang
lagi melihat adegan-adegan yang menjijikkan seperti itu.
Setelah penantian yang lama, akhirnya waktuku tiba juga.
Begitu hari penerimaan ijazah, aku langsung kabur dari
rumah dengan membawa barangku seperlunya. Aku tinggalkan
semua uang dari ciciku sejak aku memutuskan beberapa
bulan lalu. Aku hanya meninggalkan sebuah surat. Mereka
semua tidak akan pernah menyangka kalau aku, si manusia
tanpa guna pada akhirnya berani menentukan sikapku
sendiri. Ya, aku kabur. Walau tidak tahu mau kemana.
Yang penting aku harus ke kota lain.

E N D




© Karya Pengarang Lain